Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2017

Pertama Kalinya Nyobain Martabak Durian

Assalammu'alaikum wr wb


Wah ini blog semacam hidup enggan mati tak mau ya guys,  lama sekali nggak saya update 😜


Hehehe apa kabar semuanya? 
Iya kali masih ada yang baca juga ya 😅

Kali ini saya mau berbagi pengalaman saya pertama kalinya nyobain martabak durian di Aceh. Kalo pancake durian kan udah sering dengar ya kalian,  nah kalau martabak durian di kota kalian juga ada nggak? 

Sebenarnya ini juga nyobanya udah di bulan Juli yang lalu,  tapi saking malesnya nulis jadilah nyobainnya kapan,  ceritanya kapan ya sayanya 😅

Waktu itu saya, suami,  ibu mertua dan adik ipar lagi perjalanan pulang ke Takengon dari Medan. Nah karena sudah masuk waktu makan malam otomatis kita nyari warung untuk makan waktu itu. Kebetulan kami waktu itu sedang berada di kota Geudong. Tepatnya di dekat jembatannya,  kalau dari arah medan warungnya berada di sebelah kiri, sedangkan kalau dari arah Bireun tuh warungnya berada di sebelah kanan. Pas di ujung gitu lokasinya. 


Geudong,  Aceh


Awalnya kami cuma memesan sate khas Aceh (a.k.a Sate Matang), nah karena melihat di keterangan nama warungnya itu yang lebih disorot atau ditulis besar-besar itu adalah martabak durian, penasaranlah sayanya. Akhirnya saya pesan satu dan adik ipar juga pesan satu. 

Geudong,  Aceh


Martabaknya bentuknya persegi empat gitu,  kulitnya tuh ya kayak kulit pangsit tapi agak tebal. Atau seperti roti cane tapi di dalemnya ada daging buah duriannya. Nah setelah dipotong barulah keluar aroma khas duriannya. Rasanya legit dan nggak eneg juga,  karena porsinya juga nggak besar ya. Jadi tuh kering diluar dan legit si dalem. Buat kalian penggila buah durian pasti suka nih. 

Geudong,  Aceh


Awalnya tuh saya ngiranya martabaknya gede gitu,  semacam martabak manis tapi dikasih toping durian. Ternyata dugaan saya salah,  hahaha...  😅 

Well buat kalian yang lagi dalam perjalanan di Aceh dan kebetulan lewat Geudong nggak ada salahnya icip-icip panganan yang satu ini. Harganya juga ramah di kantong kok,  seporsinya Rp 7.000. 

Hehehe maaf fotonya agak burem ya, soalnya kami duduknya di luar jadilah pencahayaannya sangat tidak maksimal.


Salam icip-icip dari saya 😊







Senin, 06 Februari 2017

Ngemie Ayam di Langsa

Assalammu'alaikum wr wb

Bulan lalu saya berkunjung lagi ke Langsa,  karena Mimi kembaran saya sekarang sudah pindah ke kota itu.  Kebanyakan saya berada di rumah saja,  karena memang tidak ada teman untuk keliling-keliling mencari sesuatu yang beda di Kota Langsa.

Di hari sabtu,  tepatnya tanggal 21 Januari 2017, saya dan Mimi menyempatkan untuk mencoba jajanan baru. Kami memilih mie ayam untuk jajanan sore itu.  Tepatnya di Mie Ayam Resto & Seafood. Letaknya tepat di sebelah kantor JNT yang di Jalan Ahmad Yani Kota Langsa. 



Saya suka dengan interiornya,  kebetulan saat kami ke sana pengunjungnya tidak begitu rame jadinya bisa difotoin dikit. Kami memilih di lantai bawah untuk menikmati mie ayamnya. Bangunannya terdiri dari dua lantai, jadi kalian tinggal memilih mau duduk di lantai dasar atau di lantai atas. 



Sekarang kita beralih ke soal rasa,  untuk kuahnya kaldunya lumayan berasa tapi saat disajikan kurang panas sepertinya,  jadinya mienya yang agak kering jadi agak keras saat dimakan.  Terus semurnya lumayan enak sih,  tapi masih kurang nendang di lidah saya. Untuk jajanan ini saya beri tiga bintang. 




Mungkin nanti kalau kemari mau nyoba menu yang lain lagi.  Kalian punya rekomendasi tempat jajan enak nggak di Langsa teman-teman? 






Kamis, 22 Desember 2016

Ngopi Cantik di Warung Kopi Kaheng Takengon

Assalammu'alaikum wr wb

Kemarin sore karena terlalu suntuk di rumah saya memutuskan untuk sekedar jalan sore. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari pasar, jadi jalan sedikit sudah sampai di pasar inpres yang terletak tepat di tengah-tengah kota Takengon.

Takengon sudah terkenal dengan kopi Gayonya dan dari hari ke hari warung kopi modern mulai bermunculan di setiap sudut kota ini. Tapi sore ini saya memutuskan untuk mengunjungi warung kopi tradisional yang sudah ada sejak saya kecil. Warung itu terkenal dengan nama Warung Kaheng. Kaheng sendiri diambil dari nama bapak pemilik warung tersebut. 

Warung ini sekarang dikelola oleh anak beliau dan berganti nama menjadi Warung Suka Ramai , walau begitu warungnya tetap ramai hingga sekarang. Kopi yang dijual di sini adalah kopi saring dan kawan-kawannya yang berbahan dasar kopi robusta. Jadi kalian tidak akan menemukan pemandangan mesin-mesin canggih yang menjadi warung kopi kekinian.

Warung ini terletak di Jalan Sengeda, gangnya tepat di seberang Bank BNI Takengon. Sewaktu SMP hampir tiap hari saya membeli kue kacang di warung ini dalam perjalanan ke sekolah. Warung kopi tradisional memang memiliki ciri khas dengan adanya kue-kue tradisional untuk teman menikmati kopi.

Takengon


Jujur ini pertama kalinya saya mencoba kopi saring dan ditambah susu pula. Maklum saya bukan peminum kopi, cuma penyeruput gelas kopi mama saya saja, hehehe... Menurut saya tidak pekat, beda dengan kopi arabika tentunya.

Di sini kita saya masih melihat fungsi meja kopi sesunguhnya yaitu sebagai media komunikasi dan interaksi. Tidak ada yang memegang gadget dan semacamnya. Yang ada obrolan hangat dan diselingi candaan. Pengunjungnya memang dominan laki-laki alias bapak- bapak. Saya saja jadi bahan perhatian ketika duduk di sana dan sendirian pula. Jadilah setelah gelas saya kosong saya pun segera beranjak dari sana. 

Buat kalian yang berkunjung ke Takengon, warung ini menurut saya salah satu tempat wajib untuk kalian datangi, apalagi bagi kalian para pecinta kopi. 




Selasa, 25 Oktober 2016

Sore Berangin di Bolang Baling Pendere



Takengon
Bolang baling Pendere


Assalammu'alaikum wr wb

Sore itu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2016 saya dan sepupu saya Uli janjian untuk ke salah satu tempat rekreasi di Takengon. Bolang baling ini letaknya di desa Pendere.

Untuk mencapai ke sana, dari kota Takengon kalian bisa mengambil arah perjalanan ke toa. Setelah Tan Saril kalian akan menemukan sebuah gang ke arah kiri. Tenang aja ada penandanya kok, tapi saya nggak sempat ambil fotonya. Jalannya menanjak dan kurang bagus, juga licin kalau hari hujan jadi hati-hati buat kalian yang memilih ke sana di saat musim hujan seperti sekarang ini.


Bolang baling ini tidak terlalu besar, hanya memiliki 16 bilik. Waktu itu saya dan sepupu saya memilih ke sana pada sore hari. Hari agak mendung sebenarnya, malah sempat hujan juga saat perjalanan kami ke sana.

Saya dan sepupu saya, Uli



Tiket untuk menaiki bolang baling ini adalah Rp 10.000 dan walau yang sewa cuma satu orang juga bakal diputerin bolang balingnya.

Tempatnya sebenarnya asri dan lumayan luas. Sudah terdapat toilet dan taman bermain kecil untuk anak-anak. Di sekeliing kompleknya juga terdapat kebun kopi milik warga. Tetapi kita tidak dapat melihat pemandangan Danau Lut Tawar dari sini karena ditutupi oleh bukit.

Sayang sekali tempat ini tidak terlalu ramai, mungkin karena lokasinya kurang strategis ya, saya juga kurang tau kenapa. Atau mungkin pengelolanya perlu buat sesuatu yang beda biar menarik banyak pengunjung ke sana.

Takengon
Lihat, cakep kan pemandangannya


Well, saya agak takut juga waktu menaiki bolang balingnya, yah memang dasarnya saya juga penakut orangnya, hehehe. Tapi setelah dicoba tidak menakutkan kok, karena muternya juga pelan. Yah mungkin kalau ke sana lagi asiknya rame-rame kali ya.

Lihatlah wajah keyakutan saya, hahaha...


Yah semoga bisa menjadi referensi buat kalian sedang berkunjung ke Takengon ya teman. Oia masih ada yang tanya Takengon itu dimana? Takengon itu ibu kotanya Kabupaten Aceh Tengah ya teman-teman.

Maaf fotonya hanya sedikit, file fotonya nyelip entah di memori yang mana (bilang aja males nyari dan ngedit chi, hehehe).


Selasa, 10 November 2015

Si Imut Buah Rembele

Assalammu'alaikum wr wb

Pada tau buah rembele nggak teman-teman?
Eh tapi saya juga nggak tau nama umumnya apa dalam bahasa Indonesia, hehehe.



Rembele adalah nama sebuah pohon di Takengon dan Bener Meriah. Biasanya banyak tumbuh liar gitu di hutan atau di pinggir sungai. Tapi ya gitu, sekarang juga udah jarang ketemu sama tanaman yang satu ini. Namanya juga hutannya udah banyak dijadiin kebun yam

Kalau di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rembele lebih dikenal sebagai nama bandar udara di sana. Kabar burungnya pemilihan nama itu karena di lokasi bandar udara yang sekarang itu dulunya banyak terdapat banyak pohon rembele ini.

Rembele selain buahnya yang bisa dicemilin, daunnya juga dulunya banyak digunakan sebagai pembungkus tempe. Dan tentunya punya rasa yang khas pada tempenya karena aroma daunnya. Tapi ya kayak yang saya bilang di atas, karena udah susah ditemuin ya tempe khas ini juga udah susah nemuinnya.

Kebetulan saya baru aja nyobain buah rembele di bulan Agustus kemarin pas maen ke sungai dekat rumahnya bunda di Lampahan. Rasanya manis-manis kecut gitu, mirip cherry liar yang sering jadi makanan tupai liar itu loh.


Jadi di daerah kalian nama tanaman ini apa ya teman-teman?





Kamis, 10 September 2015

Pacu Kude, Tradisi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di Takengon

Seperti tahun-tahun sebelumnya Pacuan Kuda atau lebih dikenal dengan sebutan 'Pacu Kude' oleh masyarakat Gayo menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.



Biasanya Pacuan Kuda dilaksanakan selama seminggu penuh dan pada hari minggu merupakan puncak atau finalnya, jadi pada hari minggu hampir semua masyarakat Takengon atau dari beberapa kabupaten sekitar akan berdatangan memenuhi Lapangan Pacuan Kuda HM Hasan Gayo Belang Bebangka di Pegasing.

Untuk mencapai Lapangan jika kalian tidak memiliki kendaraan sebenarmya tidak sulit. Karena biasanya jika musim pacuan kuda seperti ini maka angkot atau yang lebih dikenal dengan sebutan labi-labi akan langsung masuk ke komplek lapangannya, jadi kita juga nggak perlu jalan jauh dari jalan utama menuju ke lapangannya. Untuk tarif normal penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000, tetapi kadang suka dinaikin juga ongkosnya jadi Rp 7.000. Jadi jangan lupa bertanya dulu sebelum membayar ya. Dari pusat kota kalian tinggal mencari labi-labi yang bertuliskan TOA aja pasti langsung nyampe kok.

Pada hari minggu (23/8/2015) saya menuju ke Lapangan HM Hasan Gayo dengan menumpang labi-labi. Berangkat lebih pagi dapat menghindari kemacetan juga buat kita. Ya walau jarak dari pusat kota Takengon tidak terlalu jauh ke Lapangannya, tapi ya kalau sudah terjebak macet kan nggak asik juga.

Pacuan kuda ini biasanya dimulai sekitar jam 10 - 11 pagi. Nah datang lebih pagi juga memudahkan kita untuk mencari lokasi menonton yang bagus dan tidak berebutan dengan penonton yang lain. Ya tapi ingat-ingat jangan melewati pagar pembatas ya saat menonton. Karena kita kan nggak bisa menduga kudanya bisa berlari ke arah mana aja, ya demi keamanan tentunya.


Suasana tribunnya
dilihat dari kejauhan,
padat ya...

Suasana di tengah
lapangan.


Pacuan kuda di Takengon ini masih bersifat tradisional. Jokinya biasanya berkisar antara anak-anak dan remaja, tetapi belum memiliki perlengkapan keamanan bagi jokinya.



Yang jualan juga rame, mulai dari yang jualan makanan, peralatan dapur, buah-buahan, pakaian baru maupun bekas, sampai yang jualan masker juga ada.

Abang-abang ini minta difoto
dikirain sayanya wartawan sama
mereka, hahaha...


Jemblang atau Jambu Keling
jajanan ini juga merupakan
jajanan khas karena
kebetulan masa panennya
jatuh di bulan
Agustus.


Burung pipit ini
banuak dibeli oleh anak-anak.
Tapi kesian burungnya dicat gitu,
tadinya saya kira
itu warna alaminya :(

Lagi-lagi sayanya
dikirain wartawan,
abang-abang supir labi-labi
ini minta difotoin juga :D

Tradisi pacuan kuda ini sudah berlangsung sejak abad ke-19. Dulunya dilakukan di pinggir Danau Lut Tawar sebelah timur sebelum pindah ke Lapangan Musara Alun di daerah kota sampai akhirnya dipindahkan lagi ke Lapangan HM Hasan Gayo ini.

Buat kalian yang memiliki waktu luang di bulan Agustus, event ini salah satu event yang sayang untuk dilewatkan teman-teman.



Rabu, 19 Agustus 2015

Semarak HUT RI ke 70 di Tetunyung, Takengon


Assalammu'alaikum wr wb

Dirgahayu Indonesiaku tercinta ♥

Sama seperti di setiap sudut Indonesia, di lingkungan saya tinggal juga diselenggarakan perlombaan untuk menyemarakkan ulang tahun Republik Indonesia. Yuk kita lihat beberapa foto suasana 17-an kemarin di dekat rumah saya.



Karena sulitnya mendapatkan jeruk bali di Takengon, sepertinya panitia 17-annya berinisiatif menggantinya dengan pepaya yang hanya dilumuri tepung saja di permainan mengumpulkan koin.



Kelompok anak perempuan dalam lomba membawa kelereng terlihat lebih sabar dibandingkan dengan kelompok laki-laki. Ini terlihat dari tidak seringnya mereka menjatuhkan kelereng yang mereka bawa dan bisa langsung ke garis finish. Tidak seperti kelompok laki-laki yang sering menjatuhkan kelereng mereka sehingga harus mengulang dari garis start, hehehe...



Dalam permainan lari goni dalam sebutan kami atau balap karung dalam sebutan umum, adik-adiknya semangat sekali bahkan ada yang keserimpet, hehehe....






Permainan panjat pinangnya diselenggarakan selesai waktu Ashar. Walau hari hujan, pesertanya tetap antusias. Oia mungkin kalian heran ya dimana hadiahnya? Hadiahnya hanya ditulis pada kertas-kertas saja, jadi tidak langsung digantung seperti biasanya. Kurang meriah sih memang, tapi ya walau begitu tetap saja susah untuk mengambilnya, hehehe...


Pengumuman pemenangnya dilakukan malam hari jadi sayanya nggak ikutan nonton lagi.


Oia untuk kalian yang sedang di Takengon jangan lewatin event Pacuan Kuda selama seminggu ini ya.

Takengon
Pacuan Kuda




Kamis, 04 Desember 2014

Kopi dan Candu



"Kamu mau minum apa?" tanyamu.
"Hmm.. yang enak apa ya? Aku kan tidak terlalu kuat minum kopi" jawabku.
"Bagaimana kalau sanger saja, ada campuran susunya. Jadi tidak terlalu pekat kopinya" ujarmu.
"Ya udah, aku pesan yang itu" jawabku lagi.


****************


Ah, aku rindu bertanya tentang menu-menu itu padamu?
Kamu, apa juga rindu aku tanyai terus?
Hihihi paling juga kamu malah sebel ya aku tanyai melulu.
Bukan, bukan karena aku tidak mau mengingatnya.
Hanya, mendengarmu menjelaskan itu semua semacam candu bagiku.





Catatan:
Sanger adalah kopi khas Aceh. Mirip seperti kopi susu tapi punya takaran campuran yang khas. Juga ada buihnya kayak teh tarik gitu. Kalau sedang ke Aceh jangan lupa icip-icip ya teman :)



Rabu, 05 November 2014

Berakhir Pekan di Banda Aceh Part I

Assalammu'alaikum wr wb

Hari jum'at yg lalu (31 Oktober 2014) saya bersama Pak Gunawan (ketua Blogger Pelajar) beserta keluarga mengadakan perjalanan ke Banda Aceh. Dalam rangka apa chi? Liburan duuung.

New Pelangi

Pemandangan di dalam bus
New Pelangi

Sebenarnya ini perjalanan liburannya keluarga Pak gunawan, saya nebeng aja, hahaha... Awalnya saya dimintai tolong sebagai guide, eh nggak taunya saya sama nggak ngertinya sama Pak Gunawan tentang Banda Aceh.

Akhirnya saya minta tolong ke Aulia (@hack87) buat nyariin teman perjalanan selama di Banda Aceh. Akhirnya lewat Aulia, kami dikenalkan sama teman I Love Aceh crew. Yang pertama kali saya hubungi adalah Chera.

Hari Sabtu pagi kami sampai sekitar jam 7 pagi di Banda Aceh dan disambut dengan hujan pula. Ternyata semalaman Banda Aceh diguyur hujan, sampai-sampai beberapa titik di kota Banda Aceh juga tergenang banjir. Termasuk rumah bibi saya juga :(

Setelah dijemput oleh abang saya, kami pun menuju penginapan. Pilihan jatuh ke Hotel Kuala Radja, tepat berada di depan RSU Dzainal Abidin. Saya sendiri menginap di rumah bibi yg tidak jauh dari sana.

Sekitar jam 10 kami janjian untuk berkumpul lagi, barengan anak ILA Crew juga. Hari itu yang menemani kami adalah Chera dan Kahfi.

Setelah sesi perkenalan cantik akhirnya tempat pertama yg menjadi tujuan kami adalah Museum Tsunami. Ini kali kedua saya ke sana. Di beberapa ruangan banyak properti yang berkurang. Menurut keterangan lagi masa perbaikan di sana. Pendapat saya masih sama dengan kali pertama saya kemari. Tempat seluas itu tapi terlalu banyak ruang yg tak terpakai, disayangkan sekali.

Selanjutnya kami menuju ke PLTD Apung. Ini juga kali kedua saya ke sana. Pertama kali sekitar tahun 2008. Banyak yang berubah tentunya. Pertama kali ke sana, lokasi ini belum dikelola sedemikian rupa seperti sekarang. Belum ada pagarnya, belum ada monumennya, belum ada yang jual souvenir dan terutama belum ada tukang parkirnya, hehehe..

PLTD Apung

(Ka-ki: Kahfi, Panji, saya, Bunda & Nayla)
Lupa bluetooth foto dari
Pak Gun. Jadinya
Cuma ini foto 
barengnya :(


Karena terlalu ramai, kami nggak naik ke bagian atas kapalnya.

PLTD Apung


Lalu Lapangan Blang Padang jadi tujuan kami selanjutnya. Sisa hujan semalam tampak di mana-mana. Masih syukur jalan setapaknya nggak ikutan tergenang air.

RI I

Masih ingat sejarah tentang RI 1 nggak?
Nah ini dia pesawatnya

Setelah itu kami lanjut ke Kuburan massal si daerah Ulhe lhee, sayang karena hujan mulai turun kami hanya melihat dari mobil saja.

Karena perut sudah minta diisi, kami pun menuju KFC. Waduh jauh-jauh ke Banda Aceh kok jajannya KFC Chi? Hehehe maklum, Pak Gun anaknya doyannya itu, kami ya ngikut aja :)

Selesai makan memang waktu yang pas buat ngobrol ya. Kami banyak berbagi cerita tentang komunitas dan media sosial juga. Kebetulan hujan juga lagi deras-derasnya di luar.

Waktu hujan agak reda kami memutuskan untuk menyambung obrolan di hotel sebelum akhirnya bubar dan janjian ketemu lagi sehabis magrib.

Malemnya kami menyambung obrolan lagi di antara Solong Mini dan Kebab Doner di daerah Lampineung. Ngobrol sambil makan tentunya.

Jenis Kebab

' Doner Kebab '
Agak kekeringan dagingnya
Kalo menurut saya.
Tapi ya lumayanlah rasanya :9


Sanger

' Sanger '
Kalau ke Aceh nggak
icip-icip sanger ya rugi kan ya :)
T Rexnya Panji aja pengen tuh, hahaha...


Terima kasih untuk Chera dan Kahfi yang udah rela absen malam mingguannya demi kami ♥♥♥

ILA Crew

(Ki-ka: saya & Chera)

Berakhir Pekan di Banda Aceh Part I nya sekian dulu ya, nanti dilanjutkan ke part keduanya :)

Sabtu, 13 September 2014

Mie Lidi alias Mie gomak

Assalammu'alaikum wr wb

Pada bingung nggak teman-teman kenapa nama mie ini disebut Mie Lidi. Hihihi saya juga kurang tau kenapa disebutnya begitu, setau saya ya mungkin karena bentuknya yang kaya lidi itu kali ya :p

Kalau di Sumatera Utara mie ini dikenal dengan sebutan Mie Gomak nih.

Jenis Mie


Mie ini cara pengolahannya rada ribet sebenarnya. Karena harus direbus dulu kemudian dicuci dan ditiriskan baru bisa kita olah sesuai selera. Bisa ditumis, direbus atau disajikan bersama lontong.

Kebetulan di rumah Takengon di depan rumah ada warung kecil milik mama yang menu utamanya ya Lontong Mie ini.

jenis mi


Saya kurang tahu juga sebenarnya mie lidi ini adanya dimana aja. Tapi pernah ada teman saya yang berasal dari Jakarta yang memang hobinya itu masak, baru mengenal mie ini ketika berkunjung ke Medan.

Untuk merknya juga beragam, tapi yang paling terkenal itu merk 'GL'. Tapi di Aceh ada merk baru seperti yang di foto yang di atas.

Waduh jadi pengen jajan mie nih. Buat yang lagi ke Aceh dan Sumatera Utara jangan lupa jajan mie yang satu ini ya. Terserah mau nyebutnya apa, sama aja Mie Lidi alias Mie Gomak  :D


Jumat, 08 Agustus 2014

Melepas Rindu Dengan Mie Ayam

Assalammu'alaikum wr wb

Hampir sebulanan nggak jajan mie ayam, lidah ini berasa ada yang kurang. Jadilah beberapa hari yang lalu, saya dan Mimi kembaran saya hunting tempat jajanan mie ayam yang belum pernah kami kunjungi di Takengon.

mie takengon


Atas rekomendasi sepupu, kami pun penasaran nyobain mie ayam di warung bakso langganannya. Warung bakso Mitra yang juga menjual mie ayam yang kami datengin kemarin sore itu terletak di Jl. Lebe Kader, di dekat SMA Neg.1 Takengon.

bakso takengon


Tempatnya lumayan cozy dan cukup bersih. Kalo soal rasa kalo menurut saya yah kurang nendang semurnya itu. Kalo kuah kaldunya yah lumayanlah.

takengon


Soal harga untuk ukuran Takengon ya standarlah, semangkuknya Rp 10.000.

Nah buat kalian yang lagi berkunjung ke Takengon, warung ini bisa jadi salah satu alternatif buat jajan nih. Lokasinya juga mudah di dapat, tepat di jalan utama kota.Akhirnya kesampaian juga melepas rindu dengan mie ayam :)


Kamis, 07 Agustus 2014

♥ Minal Adzin Walfaidzin ♥

Assalammu'alaikum wr wb

Wah nggak berasa Ramadhan udah berlalu teman, sedih ya. Mudah-mudahan tahun depan kita masih bisa ketemu Ramadhan lagi, aamiin...



Tahun ini bisa dibilang lebaran terame di rumah. Soalnya keluarga besar dari bu'de (kakaknya papa) pada pulang ke Takengon semua. Kumpul semua dari sepupu ampe ponakan. Seru...



Sayang karena kekurangan kendaraan jadinya sayanya kebagian nungguin rumah, nggak ikut ngunjung ke rumah saudara-saudara.



Karena itu saking sibuknya, ini update blognya kelamaan.



Teman-teman semua, di moment yang udah telat ini saya mohon maaf lahir dan batin ya jikalau ada salah kata, komentar dan perbuatan sama kalian semua. Mudah-mudahan ke depannya kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi ya teman, aamiin :)




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...