Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Januari 2016
Secangkir Kopi dan Kenangan Tentangmu
Udara malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Aku merapatkan jaketku sambil menyeruput secangkir kopi hitam ditambah gula jawa. Aku bukan pecandu kopi sebenarnya, tetapi udara seperti ini mengundangku untuk menikmati secangkir kopi sekedar untuk menghangatkan badan.
Sebenarnya menyeruput kopi bukan ide yang bagus juga bagiku. Karena kopi selalu menyeret kenanganku akan kamu, tuan yang selalu beraroma kopi.
Hingga pada titik akhirnya aku dan kamu tidak pernah berhasil menjadi kita. Sahabat, ya itulah zona aman yang kita pilih, padahal dari awal kita sama-sama saling mengagumi dengan diam-diam.
Aku yang takut ketika kita lebih dari sekedar sahabat akan merubah semua yang kita rasa dan akan kikuk pada akhirnya.
Kamu yang takut pada jarak yang juga akan merubah rasa kita.
Dan pada akhirnya kita tetap menjadi aku dan kamu yang katanya adalah sahabat yang nyataya suatu saat juga akan menjadi kikuk.
Tidak, aku tidak menyesal mengenal kamu. Dari kamu aku belajar untuk menghargai sebuah nyawa. Dari kamu aku belajar untuk semakin merasa hidup dengan berbagi. Dari kamu aku belajar untuk selalu sederhana. Terima kasih untuk itu semua. Terima kasih sudah membuatku untuk berkali-kali jatuh hati pada jiwa besarmu.
Tidak terasa cangkirku hanya meninggalkan ampas kopi saja. Ah entah mengapa setiap meminum kopi tidak mempengaruhi rasa kantukku.
Kurapatkan kembali jaketku sambil ke dapur untuk meletakkan cangkirku di sana. "Sudah saatnya tidur dan cukup untuk me-recall semua kenangan tentangmu" benakku.
Kamis, 04 Desember 2014
Kopi dan Candu
"Kamu mau minum apa?" tanyamu.
"Hmm.. yang enak apa ya? Aku kan tidak terlalu kuat minum kopi" jawabku.
"Bagaimana kalau sanger saja, ada campuran susunya. Jadi tidak terlalu pekat kopinya" ujarmu.
"Ya udah, aku pesan yang itu" jawabku lagi.
****************
Ah, aku rindu bertanya tentang menu-menu itu padamu?
Kamu, apa juga rindu aku tanyai terus?
Hihihi paling juga kamu malah sebel ya aku tanyai melulu.
Bukan, bukan karena aku tidak mau mengingatnya.
Hanya, mendengarmu menjelaskan itu semua semacam candu bagiku.
Catatan:
Sanger adalah kopi khas Aceh. Mirip seperti kopi susu tapi punya takaran campuran yang khas. Juga ada buihnya kayak teh tarik gitu. Kalau sedang ke Aceh jangan lupa icip-icip ya teman :)
Sabtu, 27 September 2014
Meja Kopi
Kamu selalu bilang meja kopi itu adalah tempat terbaik untuk mengobrol.
Yah itu hanya berlaku jika aku sedang bersamamu.
Di meja yang ditemani secangkir kopi, kita selalu bisa bercerita tentang banyak hal dan tak melulu itu.
Beda ketika tidak bersamamu.
Ah.. kamu itu selalu saja membuatku rindu berbincang tentang apapun itu.
Kamu, apakah rindu juga mengobrol denganku?
Senin, 09 Desember 2013
Rindu yang Berserak
Pict from here
Aroma itu kembali hadir ketika senja perlahan datang.
Aroma basah dan lembab.
"Rapatkan jaketmu sayang" ujar ibu ketika aku mendekati jendela.
Aku pun merapatkan jaketku dan memperbaiki syalku.
Saat-saat seperti ini adalah saat-saat rindu kembali berserakan.
Rindu pada tawa renyahmu.
Pada hangat senyummu.
"Kau tahu apa yang paling ku benci?" tanyaku padamu ketika memandangi hujan di suatu sore.
"Apa?" tanyamu balik.
"Aku benci ketika mereka datang tetapi aku tidak bisa menari bersama mereka" jawabku sebal.
Tak lama terdengar tawa itu, tawa renyahmu.
"Seharusnya kau bersyukur masih bisa menikmatinya, walau sekedar memandanginya dari jendela" ujarmu sambil mengelus lembut kepalaku.
Ah, aku selalu tidak tahan dengan elusan lembut itu.
Hari ini, rindu itu pun masih berserak di sini.
Rindu pada elusan itu.
Pada tawa renyah itu yang sudah berbulan-bulan tak lagi menemaniku menikmati rinai-rinai yang perlahan menciptakan aroma basah yang ku sukai ini.
*Sihiiiiiy Desember Rain udah tiba, jadi iseng nulis begini :p
Sabtu, 29 Desember 2012
Project Surat Untuk Pangeran Cahaya
Assalammualaikum
Chi lagi dipenuhi daya khayal yang sedikit tinggi nih teman-teman. Tiba-tiba aja muncul nama Pangeran Cahaya di kepala. Bukan ini bukan tentang lelaki yang lagi dekat sama chi, cuma tokoh fiktif aja. Ya walau ada juga seseorang yang awalnya menjadi inspirasi untuk Pangeran Cahaya ini. Tapi setelah mengalir proses penulisan suratnya tetap aja isi suratnya nggak ada hubungannya sama seseorang itu.
Hahaha biasanya kan julukan-julukan seperti itu chi buat hanya untuk lelaki yang sedang mengisi hati atau sekedar menjadi lelaki yang lagi chi kecengin nih. Kali ini pangeran cahaya beruntung sekali. Hanya fiktif, tetapi surat yang didapetinnya bisa dalem gitu isinya.
Ada beberapa teman di twitter yang ngikutin surat yang masih 5 kali chi post itu dan mereka berhasil dibuat penasaran sama tokoh itu. Baiklah secaranya sayanya yang jomblo, pasti dikira itu adalah lelaki yang lagi dekat sama chi kali ya. Eh tapi makasih ya buat kalian yang peduli sama chi, sampai heboh kalau pangeran cahaya itu benar-benar ada.
Oiya buat kamu yang pengennya diakui sebagai Mr. Tea, terima kasih atas surat balasan yang manis-manis itu. Chi tersanjung sekali.... #kedipkedip
Ntar kapan-kapan suratnya chi balas ya :D
Nah buat yang mau baca surat-surat itu capcyus aja kemari....
Surat ini masih belum tau bakal chi tulis sampai kapan, yah mungkin selagi inspirasinya mengalir aja. Tapi kalo sampai terkumpul banyak seru juga kali ya. Lihat ntar aja lah...
Nah udah pada nggak penasaran lagi kan siapa itu pangeran cahaya teman-temanku... #kode
Gambar dari sini
Jumat, 14 Desember 2012
Bintangmu, Aku
Cahaya lampu jalan yang menerangi teras kontrakanku yang memang sudah lama tidak dipasangi lampu menyinari wajahmu. Malam itu, kamu yang memakai tshirt berwarna hitam terlihat duduk santai menikmati sebuah jeruk di depanku. Kamu memang selalu begitu, lebih sering memilih duduk berhadapan, bukannya bersisian denganku.
"Tuh kan, sekarang itu susah sekali melihat bintang di sini" ujarku sambil membersihkan sesiung jeruk di tanganku.
"Ah masa sih? Perasaan kamu aja kali" jawabmu asal.
"Iya, beneran. Coba deh lihat sendiri" jawabku sambil menunjuk ke arah langit.
Kau pun mendongakkan kepalamu, ikut mencari bintang bersamaku.
"Ini sih mendung. Ya pantesan aja nggak kelihatan bintangnya" katamu
"Huh.. memangnya kamu masih sering melihat bintang apa? Ini juga kalo nggak aku sadarin kamunya juga nggak bakal kepikiran kan" jawabku sewot.
"Iya, masih sering kok" selamu.
"Ini tuh gara-gara polusi cahaya nih makanya bintangnya jarang kelihatan" ujarku.
"Tau dari mana?" tanyamu sambil tersenyum jahil.
"Dari membaca lah, kamu sih jarang membaca" jawabku sewot lagi.
"Kamu terlalu banyak membaca tuh" ledekmu sambil tertawa kecil.
"Kamu gitu deh, selalu aja ngeledekin aku" jawabku kesal.
"Udah.. Udah.. jangan ngambek gitu. Aku ngelihat bintang nih sekarang" ujarmu tanpa melepaskan pandanganmu dari diriku.
"Mana.. mana?" tanyaku sambil mendongakkan kepala ke arah langit.
"Udah nggak usah cari di atas sana. Bintangnya ada di depan aku kok" ujarmu sambil tersenyum manis.
"Ih kamu ini bisanya..." jawabku.
Entah kenapa, rasa panas muncul di dadaku dan perlahan naik menuju pipiku. Pendar merah jambu itu pun seperti telah diberi aba-aba untuk muncul di pipiku.
Picture from here
4 November 2012
Kamis, 18 Oktober 2012
Semanggi di Taman
Harum rerumputan menyesak sedari tadi pada indera penciumanku. Entah apa yang membuatku mengikutimu sampai kemari. Taman kecil yang berada di dekat kontrakanmu. Awalnya aku mengira kau akan mengajakku bermain ayunan di arena bermain kecil yang terdapat di taman itu. Tapi khayalanku seperti peristiwa romantis yang banyak di drama Korea itu harus kubuang jauh-jauh dari pikiranku. Aku tau, itu bukan tipemu.
Dari awal aku terus mendesakmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu kau kau jawab dengan kalimat yang membuatku semakin penasaran.
"Kita mau apa di sana?" tanyaku
"Udah ikut aja, ntar kamu pasti tau sendiri" jawabmu disertai senyum usil khas kamu.
Sesampainya di sana kamu mulai menarik-narikku dengan antusia seperti anak kecil yang tidak sabar ingin memamerkan hasil karyanya pada ibunya. Tapi itu memang khasnya kamu. Kamu mulai menarikku ke arah sesemakan yang berada agak di ujung taman itu. Genggaman tanganmu mulai mengendur di tanganku dan lama kelamaan benar-benar terlepas. Kau berjongkok tanpa peduli rokmu yang sedikit tertindih dengan sandal kuningmu.
"Lihat itu, dia ada di sana" tunjukmu padaku.
Aku pun ikut berjongkok di sampingmu sambil mencari-cari apa yang kau maksud. Tanganmu mengarah pada rerumputan di depanmu.
"Kau lihat itu sayang?" ulangmu.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud" jawabku bingung.
"Itu sayang, dia berdaun empat" tambahmu.
Setelah agak lama melihat ke arah yang kau tunjuk akhirnya aku menangkap apa yang kau maksud. Itu adalah semanggi di antara rerumputan itu dan berdaun empat.
"Aku ingin berbagi keberuntungan denganmu" ujarmu sambil tersenyum.
"Kau tidak ingin memetiknya?" tanyaku.
"Tidak, biarkan saja dia di sana. Aku juga ingin berbagi keberuntungan dengan yang lainnya. Kalau aku memetiknya, hanya kita saja yang kebagian keberuntungannya" jawabmu dengan mata berbinar-binar.
Hanya senyumku yang terkembang untuk menanggapi pernyataanmu itu. Kau memang berbeda sayangku, tapi itulah kamu. Kamu yang selalu membuatku jatuh cinta setiap hari.
Pict from here
Kamis, 11 Oktober 2012
Surat Cinta Tanpa Nama
Ini adalah surat ketujuh yang datang ke kontrakanku. Surat yang berisi untaian kata-kata indah yang dibumbui untaian kalimat gombal. Entahlah, ini disebut puisi atau surat cinta. Surat tanpa nama ini selalu ditujukan kepadaku. Sebagai orang normal, tentu saja aku penasaran siapa yang mengirimkan surat-surat ini.
Ternyata mendapatkan surat cinta itu tidak seindah seperti di novel-novel romantis yang sering aku baca. Terlebih surat ini bukan berasal dari orang yang kusukai ditambah tanpa nama pula. Jujur aku tidak terlalu suka dengan surat-surat ini. Ditambah lagi aku tidak terlalu bisa mengartikan rangkaian diksi yang terjalin di dalam surat-surat itu.
Buat kamu Mr. Tanpa Nama, terima kasih telah menyukaiku. Tapi maaf rasa kita sepertinya tidak sama. Rasamu membuatku tidak nyaman. Rasaku tidak bisa dengan mudahnya berubah hanya dengan mendapatkan rangkaian kata-kata indah seperti yang kau kirimi padaku ini. Dan aku juga tidak sesederhana seperti yang kau kira, begitu juga rasaku, tidak sederhana.
Jumat, 28 September 2012
Halte Bus Siang Itu
Matahari merangkak menuju puncaknya. Karena ada urusan sedikit dengan Bu'deku yang datang dari luar kota, aku harus izin keluar kantor lebih cepat dari istirahat makan siang. Di sinilah aku sekarang, di halte bus dekat kantor dengan peluh yang mulai mengucur di dahiku.
Tak jauh dari halte itu, terdapat sebuah rumah yang dijadikan sebagai tempat parkir sepeda motor karyawan-karyawan di daerah perkantoran ini. Di situlah tampak dirimu tengah duduk sendiri sambil menghisap sebatang rokok. Aku tahu kamu memperhatikanku dari kejauhan itu. Tetapi saat aku mengalihkan pandanganku pada dirimu, kamu malah pura-pura tidak menyadari keberadaanku. Aku hanya bisa tersenyum geli di dalam hati.
Kamu yang akhir-akhir ini sering menghubungiku via social media dan sering mengirimkan pesan-pesan gombal itu, ternyata tidak punya keberanian lebih di dunia nyata. Masih sama seperti di dunia maya, hanya berani melihatku dari kejauhan saja.
Posisimu masih di situ dan sesekali masih mencuri pandang padaku hingga akhirnya bus yang kutunggu-tunggu datang menghampiriku.
Kamis, 06 September 2012
Surat Untuk Penyuka Senja
Hai penyuka senja...
Bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah senja di sana masih sama seperti yang kau perlihatkan dulu padaku? Aku tidak heran mengapa kau sangat menyukainya. Itu memang senja terindah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Atau mungkin karena aku melihatnya bersama denganmu ya? Entahlah
Kadang ketika senja datang, aku sering teringat padamu dan berrpikir, apakah senja yang kulihat sama dengan senja yang kau lihat di sana? Tapi aku yakin tidak sama. Kita memang berada di bawah langit yang sama. Tapi senja kita berbeda.
Di sini senjaku tak indah. Kadang waktu berlalu begitu saja. Terang berubah menjadi gelap tanpa ada senja indah yang mengawalinya. Di sini tak ada angin segar. Di sini yang terlihat hanya puluhan atap rumah orang. Aku bahkan sering lupa di arah mana matahari tertelan oleh malam, karena pemandangan yang membosankan itu. Aku jadi rindu pada senja yang kau perlihatkan padaku.
Selamat malam penyuka senja. Semoga suatu saat kita bisa melihat senja itu bersama lagi.
Dan tentu saja tanpa mendung yang menyertai.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Apakah senja di sana masih sama seperti yang kau perlihatkan dulu padaku? Aku tidak heran mengapa kau sangat menyukainya. Itu memang senja terindah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Atau mungkin karena aku melihatnya bersama denganmu ya? Entahlah
Kadang ketika senja datang, aku sering teringat padamu dan berrpikir, apakah senja yang kulihat sama dengan senja yang kau lihat di sana? Tapi aku yakin tidak sama. Kita memang berada di bawah langit yang sama. Tapi senja kita berbeda.
Di sini senjaku tak indah. Kadang waktu berlalu begitu saja. Terang berubah menjadi gelap tanpa ada senja indah yang mengawalinya. Di sini tak ada angin segar. Di sini yang terlihat hanya puluhan atap rumah orang. Aku bahkan sering lupa di arah mana matahari tertelan oleh malam, karena pemandangan yang membosankan itu. Aku jadi rindu pada senja yang kau perlihatkan padaku.
Selamat malam penyuka senja. Semoga suatu saat kita bisa melihat senja itu bersama lagi.
Dan tentu saja tanpa mendung yang menyertai.
Senin, 06 Agustus 2012
Layang-layang Didi
..... ..... ..... ..... .....
Hari ini adalah hari kelahiranku. Oleh tangan seorang laki-laki yang ingin memenuhi janjinya pada seorang gadis kecil yang belakangan aku tahu namanya adalah Didi. Tubuhku berwarna kuning dan memiliki ekor dengan pita berwarna putih.
Didi tampak senang dengan kehadiranku. Dia berlonjak kegirangan ketika laki-laki yang dipanggilnya ayah itu menyerahkanku padanya. Didi berjanji pada ayahnya akan menjagaku baik-baik dan akan semakin giat belajar. Aku bingung, entah apa hubungannya aku dengan giat belajar.
Kemudian ayah Didi memasangiku dengan seulas benang putih yang berujung pada gulungan pada sebuah kaleng bekas susu kental manis. Lalu aku dibawanya keluar rumah dan mulai diterbangkannya ke udara. Aku senang sekali, perlahan-lahan aku mulai naik.Tinggiku pun sudah melampaui pohon mangga yang ada di samping rumah Didi. Aku mendongak ke atas dan mendapati hamparan biru yang seakan tak berujung. Aku suka ini. Angin juga bertiup tidak terlalu kencang. Tubuhku meliuk-liuk santai seakan sedang menari. Sesekali ayah Didi menarik benang yang terikat pada tulangku agar aku dapat terbang dengan stabil.
Tak lama ayah Didi menurunkanku/ Tubuhku terhempas ke tanah keras. Sedikit sakit memang, tetapi untung tidak ada batu di sana yang mungkin saja bisa merobek tubuhku. Tampak Didi berlari ke arahku dan memungutku. Sekarang tibalah saatnya Didi yang akan menerbangkanku. Tubuhku berkali-kali terhempas ke tanah karena Didi gagal menerbangkanku. Tetapi Didi tampak sangat bersemangat untuk menerbangkanku. Sampai akhirnya ia pun berhasil membawaku bertemu hamparan biru tadi.
Kali ini banyak gumpalan-gumpalan putih yang menyertai hamparan biru ini.Tetapi itu tidak mengurangi perasaanku yang bahagia karena berdekatan dengan hamparan biru ini. Sesekali Didi juga menarik-narikku seperti yang dilakukan ayahnya tadi. Aku suka sekali berada di atas sini.
Sedang asik-asiknya meliuk kesana kemari, kemudian terdengar suara seperti gemuruh dari kejauhan.
"Oh tidak, sepertinya akan ada angin besar" dalam batinku.
Tak lama aku pun merasa terombang-ambing tak tentu arah. Aku melihat benang ditubuhku memendek. Itu artinya ia telah terpisah dari kaleng susu yang dipegang Didi. Di bawah sana tampak Didi berlari mengikuti. Aku pu berteriak sekuat tenaga,
"Tolong aku Didi....".
Tapi lama kelamaan bayangan Didi pun tak terlihat lagi olehku. Aku bingung.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada Didi?" batinku.
Gerakan tubuhku semakin tidak menentu. Tiupan anginnya terlalu kencang dan itu membuatku takut.
"Aku benci kau angin" rutukku dalam hati.
Tak lama tiupan angin itu mereda, tetapi itu belum membuatku lega. Perlahan-lahan tubuhku merasa ringan dan merasa sedang jatuh bebas. Kali ini bukan terhempas ke tanah keras seperti tadi, melainkan ke dalam rimbun dedaunan sebuah pohon cermai. Ekorku putus tersangkut salah satu dahan pohon itu. Aku meringis.
Aku kesal. Aku tak kenal dengan situasi seperti ini. Lalu aku merasa tubuhku seperti didorong dari arah bawah oleh benda tumpul. Dari sana juga terdengar celotehan beberapa orang bocah. Aku kemudian melihat ke arah sumber suara itu. Tampak di bawah pohon itu seorang bocah mendorong tubuhku dengan sebatang kayu.
"Sukurlah, akhirnya ada yang menemukanku. Aku tidak akan ketakutan lagi" batinku.
Tampak bocah-bocah lainnya menyemangatinya untuk menolongku turun dari pohon itu. Setelah berkali berusaha mendorongku, akhirnya aku terjatuh. Tapi kali ini tubuhku terasa sakit, tulangku juga ngilu. Ditambah lagi mereka beramai-ramai memperebutkanku, mereka menarikku kesana kemari. Kemudian terdengar suara robekan dari bagian kanan tubuhku. Tubuhku terasa sakit sekali. Ingin sekali menangis rasanya. Seketika itu juga mereka berhenti menarik-narikku.
"Ah sudahlah, dia sudah robek. Mana bisa diterbangkan lagi" ujar seorang anak.
"Benar, percuma saja kita memperebutkannya" tambah anak lainnya.
Tubuhku pun dicampakkan kembali oleh mereka dan mereka pun bergegas pergi meninggalkanku. Sendiri.
Tanpa kusadari, air mataku pun tumpah.
"Ini hari kelahiranku, tapi mengapa mereka tega begitu? Aku ingin pulang... Aku ingin Didi..." teriakku.
..... ..... ..... ..... ....
Terinspirasi dari melihat
anak-anak belakang rumah yang
layang-layangnya putus.
Kamis, 05 Juli 2012
My Black Sweet
Matahari mulai meredup. Di saat seperti ini adalah saat-saat aku selalu rindu padamu. Menurutmu ini adalah waktu yang tepat untuk meracik black coffee kesukaanku. Seperti sudah menjadi kewajiban bagimu untuk meraciknya untukku bila kau mampir ke warung ini. Warung Pak Harun yang berada di pertengahan antara tempatku dan tempatmu bekerja. Di sini pula pertama kali kita bertemu.
Aku ingat pertama kali kita bertemu, hari itu hujan dan aku meninggalkan payungku di rumah pada pagi harinya. Sebenarnya itu bukan kebiasaanku. Payung adalah benda wajib yang harus selalu ada di dalam tasku. Tapi entah mengapa hari itu aku lupa menyimpannya kembali setelah diangin-anginkan karena hujan di hari sebelumnya. Mungkin juga ini takdirku untuk bertemu denganmu.
Sore itu kita sama-sama kehujanan dan memilih warung pak Harun untuk berteduh. Warung sederhana yang hanya memiliki tiga buah meja dan beberapa kursi di dalamnya. Ternyata banyak para pekerja yang bernasib sama dengan kita. Tidak membawa payung dan memilih berteduh di sana. Waktu itu aku memilih untuk duduk di sampingmu. Tidak, itu bukan karena aku sengaja. Itu hanya kebetulan yang akhirnya menjadi awal manis untuk ceritaku dan kamu.
Kau memesan espresso dan aku memilih black coffee untuk menghangatkan badan. Saat itu kau lah yang mengajakku berkenalan untuk pertama kalinya. Kita mengobrol panjang tentang kopi. Ternyata kau benar-benar pecinta kopi. Bahkan aku yang sedari kecil sudah mengenal kopi terkalahkan dengan semua pengetahuanmu tentang kopi.
Hampir setiap sore kita bertemu di sana, kecuali ketika kita lembur dan di akhir pekan. Dan hampir setiap kali kesana kau selalu meracik black coffee untukku. Kadang aku berpikir , warung itu sepertinya kepunyaanmu, bukannya Pak Harun. Sesekali kau juga menambahkan susu ke dalam black coffeeku.
"Ini seperti kita" katamu.
"Iya, aku si putih dan kau di hitam" jawabku.
"Yang penting hitam manis kan?" candamu.
"Dan yang terpenting aku suka" jawabku.
Aku juga heran, darimana keberanian itu datang. Biasanya aku bukanlah orang yang suka berucap spontan. Tapi denganmu aku begitu. Pipimu bersemu merah mendengar celotehanku. Saat aku menyadari itu, pipiku pun ikut bersemu.
Pict from here
* Lagi kehabisan ide buat nulis nih. Ini salah satu ff yang pernah aku tulis di akun Wattpadku mampir kesana juga ya teman-teman :)
Minggu, 01 Juli 2012
Missing You
Udara dingin serasa menusuk tulang. Walau aku memang terlahir dan besar di kota ini, entah mengapa malah tubuhku tidak terlalu bisa bertoleransi dengan udara pegunungan yang memang sejuk ini. Jaket 2 lapis yang aku pakai, tetap tidak bisa menghalau rasa dingin di tubuhku.
.......................................................................
Padahal di mobill ini ac-nya tidak terpasang, tapi tetap saja aku merasa kedinginan.
"Dingin ya dek?" tanyamu padaku.
"Hehe iya. Nggak lihat nih, ingus Dian aja udah meler gini" candaku.
"Tuh pake jaket abang aja" ujarmu
"Nggak dingin-dingin amat kok bang" jawabku.
"Udah nggak usah sok kuat gitu nahan dingin" ujarmu sambil mengambilkan jaket dari bagian belakang mobil.
Aku pun tak bisa menolak untuk memakainya. Selain merasa tak enak, aku juga memang benar-benar butuh jaket lebih untuk menghangatkan badan. Jaket ini terasa hangat, sehangat senyuman yang kau sungginggkan padaku.
............................................................
Aiiissshhh... kenapa aku malah teringat peristiwa itu. Memang beberapa hari ini entah mengapa aku sering merindukan dia yang beberapa bulan yang lalu pernah mengisi ruang kosong di hatiku. Dia juga yang telah dengan semena-menanya kuberi harapan, tapi pada akhirnya justru aku sakiti dengan sikapku yang membingungkan untuknya. Sebenarnya aku sendiri bingung dengan sikapku. Sikap yang selalu muncul tiba-tiba ketika rasa bahagia mulai muncul pelan-pelan. Tapi seperti bom atom, sikap itu tiba-tiba muncul meluluhlantakkan semua yang membuat bahagia itu. Tiba-tiba aku menjadi defensif, menutup diri dan perlahan menghilang tanpa kata sepatah kata pun.Sebelum itu dimulai aku bahkan sudah mundur duluan.
.....................................................
"Ketika kamu merasa tak bahagia dengan hidupmu, ingatlah, bahwa ada seseorang yang bahagia hanya karena kamu ada" begitulah kira-kira isi salah satu sms darimu.
...............................................................
Entahlah, mengapa baru saat ini aku bisa tersenyum membaca smsmu itu. Ya, aku masih menyimpan beberapa sms yang pernah kau kirimkan padaku. Bukankah aku memang benar-benar aneh menurutmu? Tapi mungkin kau lebih menganggapku ini jahat lebih tepatnya. Jahat karena telah mempermainkan perasaanmu. Aku juga heran, mengapa aku tega bersikap cuek terhadapmu yang dengan sabar terus menghubungiku dan meminta maaf padaku. Tidak, itu salah... Harusnya akulah yang meminta maaf padamu. Kupikir, kata maaf juga mungkin tidak cukup untuk menebus semua sikapku padamu.
"Kamu tau kenapa orang itu cuek?" tanya sahabatku kepadaku.
"Memangnya kenapa?" ku balik bertanya.
"Karena orang itu ingin lebih diperhatikan" jawabnya.
"Apa aku juga temasuk dalam kategori itu?" tanyaku lagi.
"Mungkin" jawabnya.
Apa mungkin itu salah satu penyebab bom atom itu selalu muncul ketika aku mulai merasa bahagia? Tapi penyesalan itu selalu muncul belakangan. Ketika dia mulai menghilang perlahan, ketika dia yang sepertinya telah menemukan penggantiku, ketika itu pula aku mulai merasa kehilangan. Kehilangan satu bagian puzzle di hatiku. Bahkan ini bukan pertama kalinya. Untuk kesekian kalinya aku melakukan kesalahan yang sama.
Senin, 18 Juni 2012
It's too late
Rinai rintik hujan masih terlihat dari jendela kamarku.
Aiiiish... lagu ini membuatku terkenang padanya.
Lagu yang pernah dinyanyikannya untukku.
Apa-apaan ini?
Tetiba aku pun bingung dibuatnya.
Ups... bukan bingung tepatnya.
Tetap saja ini sudah terlambat untuk mengatakan sesal.
Menyesal memang selalu datang belakangan.
Benar seperti yang mereka bilang, orang yang lebih mencintailah yang lebih sering mengalah.
Tapi mungkin terus-terusan mengalah juga menjadi hal yang membosankan baginya.
And now he's gone...
Meninggalkan aku yang mulai merindukannya lagi.
Merindukan semua canda tawanya.
Meninggalkan aku yang selama ini sibuk dengan isi pikiranku sendiri.
Ya dia telah menoleh pada sosok di dekatnya.
Yups.. It's too late untuk kami saling bergandengan tangan lagi.
Suara penyiar radio akhirnya menyadarkanku dari lamunan.
Aku pun mengacak-acak rambutku dan mendengus.
Sial hujan ini membuatku merindukannya.
Kamis, 31 Mei 2012
Serba Salah
Aku sedang makan siang di kampus bersama Dina, Uli, juga Tomi dan tiba-tiba ponselku berdering. Nama yang keluar adalah Eki, kekasihku. Aku pun segera mengangkat telpon.
"Halo" jawab ku.
"Kamu lagi di mana? tanya mu.
"Di kampus nih, kenapa Ki?" jawab ku.
"Itu foto yang baru di mention ke kamu di twitter itu foto kapan tuh?" tanyamu lagi.
"Foto apa? Aku belum lihat deh kayaknya" jawabku.
"Ah udah nggak usah bohong, pasti siapa-siapanya kamu kan?" sela mu.
"Duh beneran deh Ki, aku belum lihat fotonya" jawabku lagi.
"Ah udah, ntar kamu pulangnya aku jemput aja. Kamu tuh suka aneh-aneh kalo nggak sama aku" ujar Eki dan menutup telponnya.
Aku cuma bisa menghela napas jika sikap Eki mulai begini lagi. Dulu awal aku kenal dengannya dia tidak se-over protective seperti sekarang. Tapi makin lama, Eki seperti semakin mengekangku. Kemana-mana nggak boleh. Jalan bareng teman-teman yang ada cowoknya nggak boleh, apalagi berfoto bersama. Memang sudah sering juga aku dipergokinya jalan bersama teman-temanku, tapi itu juga kami pergi beramai-ramai. Ceweknya juga banyak. Kadang aku nggak habis pikir kalau sudah mengingat sikap Eki yang seperti itu.
"Siapa Trid? Eki?" tanya Uli.
"Iya" jawab ku.
"Apa lagi sekarang?" tanyanya.
"Foto di twitter" jawab ku lagi.
"Oohh.." ujar Uli.
Ya begitulah, teman-temanku juga sudah kehabisan kata-kata jika aku curhat tentang Eki. Ya satu-satunya jalan ya harus sabar kalau memang masih sayang, saran Dina satu ketika. Bahkan Tomi dan Dina yang berpacaran sekelas saja masih membebaskan masing-masing jika ingin bergabung dengan teman-teman yang lain, seperti teman-teman semasa sekolah mereka dulu.
Entah mengapa juga aku seperti dirudung rasa bosan sekarang. Kalau ditanya apa aku masih sayang Eki, tentu saja masih sayang adalah jawabannya. Tapi jika terus-terusan seperti ini seperti ada rasa tidak nyaman di dalam hati ini. Semuanya serba salah. Ketika aku mencoba menjelaskan pun tetap tak dihargai, bahkan terkadang tak di dengar. Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu dan segera mengambil ponselku dan mengetikkan sms untuk Eki.
"Ki jangan telat jemputnya ya ntar :)" isi sms ku.
Cuma satu yang ada di benakku. Cukup. Aku udah nggak ingin terluka lagi. Aku pun melanjutkan makan siangku dengan penuh tawa bersama teman-temanku.
Pict from here
---------------------------------------------------------------------------------------------------
*terinspirasi dari Serba Salahnya - Raisa dan kisah seorang teman :)
Kamis, 08 Maret 2012
Man with Blue Shirt
Siang meredup. Tetapi jalanan masih dipadati
kendaraan-kendaraan yang seperti tidak pernah bosan memuntahkan asap yang
menyesakkan pernapasan orang-orang di sekitarnya itu. Aku juga berada di salah
satu kendaraan-kendaraan itu, berdesakan dengan penumpang angkot lainnya yang
saling berebut oksigen. Udara pengap mulai terasa, ini menandakan hujan
sebentar lagi akan turun.
Suara seorang ibu yang meminta supir angkot untuk
meminggirkan angkotnya membuyarkan lamunanku, karena seketika terdengar klakson
panjang dari arah belakang angkot. Memang bagi pengendara kendaraan pribadi di
kota Medan ini, sering dibuat kesal dengan para supir angkot yang seenak
hatinya tiba-tiba berhenti untuk menurunkan atau menjemput penumpangnya. Minimnya
halte juga menjadi kurang terbiasanya orang menghentikan angkot pada tempatnya.
Tapi buat kami pelanggan angkot, itu tidak menjadi masalah. Karena kami sama
terburu-burunya dengan para pengemudi kendaraan-kendaraan pribadi itu.
Saat ibu yang mengenakan kaca mata itu turun, naiklah
seorang lelaki yang mengenakan kemeja biru berwarna biru dan menyadang sebuah
ransel berwarna hitam. Ada sebuah smart phone di tangan kirinya dan terutama
sekali belum ada benda melingkar di jari manis tangan kanannya. Entah mengapa
jari manisnyalah yang menjadi pusat perhatianku. Apakah sebegitu depresinyakah
aku karena belum memiliki pacar di usia yang sudah pantas menikah ini? Tidak,
bukan karena itu. Lelaki ini berbeda. Ini adalah kali keberapa kami seangkot
seperti hari ini. Pemuda yang selalu mengenakan kemeja biru itu sering
menyunggingkan semyum pada smart phonenya, ya bukan padaku. Setiap bertemu dia
selalu terlihat sibuk dengan smart phonenya itu. Hari ini dia memang terlihat
sedang memegang smart phonenya. Tetapi dia tidak terlihat sibuk seperti
biasanya, ditambah lagi wajahnya yang terlihat kusut. Tidak ada senyum disana,
walaupun senyuman tipis. Dan entah kenapa aku merasa kehilangan senyuman itu.
Tak lama warung bercat biru itu terlihat dan itu berarti
sudah saatnya aku turun. Ya, di samping warung itu terdapat gang kecil yang
menuju kontrakanku. Dengan segera aku meminta supir angkot untuk meminggirkan
angkot yang aku tumpangi itu. Saat menuju pintu keluar, aku masih sempat
melirik si lelaki berkemeja biru itu. Ia masih memasang tampang kusut itu,
masih tak ada senyum disana. Aku masih bertanya-tanya, mengapa senyum itu hilang? Tapi dengan cepat aku
tepis pikiran itu sambil berlalu di depannya. Dan bersamaan aku melangkahkan kaki keluar angkot, gerimis pun mulai turun. Langit sepertinya kompak dengan lelaki itu. Tidak tersenum sore ini.
Aku tidak tahu ternyata itu adalah
kali terakhir aku dapat melihat wajah lelaki berkemeja biru itu. Di hari, bulan
dan tahun berikutnya, wajahnya tak pernah lagi dapat dijangkau oleh
pandanganku. Dia ikut menghilang bersama senyumannya itu.
Pict from here
*terinspirasi dari abang-abang berkemeja biru yang pernah seangkot dengan aku
udah jarang ketemu cowok kece di angkot :p
Jumat, 17 Februari 2012
Kunci Itu Ada di Saku Rokku
Pict From Here
Aku tidak ingat kapan pertama kali mengenal suara itu. Tawa itu selalu mengingatkanku pada seseorang, tapi ntah siapa itu. Tawa yang selalu menertawakan kecerobohanku, tapi disamping itu juga membimbingku untuk lebih melangkah maju. Awalnya memang hanya tawa kecil yang terdengar lewat jaringan kasat mata itu, tapi lama kelamaan gelak tawamu perlahan mulai terdengar. Itu membuatku lega.
Terkadang tak satu aksara pun keluar dari mulut kita masing-masing. Aku selalu bilang kita sok jago berbahasa kalbu.
"Hati bisa bicara loh" candamu.
"Tapi mengapa aku tak bisa mendengarkan kata hatimu" jawabku.
"Kamu saja yang tidak berusaha mendengarnya, let's open your heart" ujarmu.
Aksaraku kembali mati, alasan kunci hatiku hilang tak bisa lagi aku jadikan alasan untuk sekarang ini. Karena aku tau sendiri, kunci itu aku simpan rapi di saku rokku.
Selasa, 14 Februari 2012
Flat Shoes Indah
Satu kata tentangmu adalah INDAH.
Aku suka melihatmu memakai flat shoes sambil berlari kecil ke arahku ketika aku membawakan buku cerita untukmu. Aku rasa itu adalah sepatu kesukaanmu. Ketika semua anak-anak lainnya memakai sendal jepit kau bersikeras untuk tetap memakai sepatumu kemanapun.
Kau bilang itu adalah sepatu pemberian ayahmu yang berkunjung beberapa hari yang lalu. Walaupun kau senang karena ayahmu datang berkunjung, tapi yang kau sesali adalah mengapa ia tak membawamu turut serta bersamanya.
Aku pernah bertanya mengapa sepatu itu selalu kau kenakan tiap hari? Bukankah akan cepat rusak nantinya?
Tapi kau bilang itu tidak mengapa, karena bila sepatu itu cepat rusak maka ayahmu akan cepat datang lagi dan membawakan sepatu baru lagi untukmu.
Aku hanya bisa diam dan menahan agar cairan bening ini tidak membasahi pipiku dan seketika itu juga aku rindu ayahku.
Pict from here
Langganan:
Postingan (Atom)















