Tampilkan postingan dengan label Pangeran Cahaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangeran Cahaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2015

Gerimis Romantis




Selamat sore Pangeran Cahaya.
Aku jadi teringat akan gerimis.
Iya, gerimis yang kala itu kau sebut gerimis romantis.
Tidak, tidak sedang hujan di sini.
Bahkan langit terlihat sangat cerah.

Cuma ingin mengingat gerimis kesukaanmu.
Gerimis yang selalu memunculkan lengkungan manis di bibirmu.
Nanti kalau gerimis turun disini, akan aku ambil satu gambarnya untukmu.
Bagaimana kalau sebagai gantinya, aku ambilkan gambar pelangi untukku?
Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat pelangi.
Di dekatku tidak ada yang bisa membiaskan cahaya sehingga memunculkan warna-warna cantik itu.
Iya ya Pangeran Cahaya?
Mau ya?

Kamu, apa juga sudah menabung rindu untukku hari ini?



..... oOo .....



*Untuk memeriahkan #30HariMenulisSuratCinta hari ke-5



Senin, 02 Februari 2015

Celengan Rindu




Pangeran Cahaya, kemarin sore aku mendengar lagu dari Fiersa.
Dia menyebut-nyebut celengan rindu di lagunya.
Aku jadi kepikiran.
Bagaimana jika kita juga membuat celengan rindu?
Iya, celengan rindu.
Aku buat satu dan kamu juga.
Nanti ketika bertemu akan kita pecahkan bersama-sama.
Mau ya Pangeran Cahaya...
Nanti akan kita lihat siapa yang paling banyak menabung rindunya.
Kita tidak harus selalu bergantung pada Tuan Angin sekarang untuk menyampaikan rindu.

Aku sudah buat satu, kamu juga buat ya nanti.
Ah aku juga sudah mulai menabung rinduku.
Tidak, aku tidak akan memberi tahumu aku menabung berapa rindu hari ini.

Tapi tadi pagi aku juga sudah menitip rinduku pada Tuan Angin.
Apakah sudah sampai kepadamu?



Untuk memeriahkan #30HariMenulisSuratCinta hari ke-4 ♥

Minggu, 01 Februari 2015

Bulan Yang Baik


Februari
Danau Laut Tawar, Takengon 


Satu hal yang selalu kuingat darimu adalah pendapatmu tentang bulan baik.
Setiap bulan adalah bulan yang baik menurutmu.
Semoga benar ya Pangeran Cahaya.
Semoga bulan ini menjadi bulan yang baik.

Pagi tadi kotaku didatangi Tuan Hujan.
Ah rasanya segar sekali.
Bagaimana denganmu?
Katanya bulan ini Tuan Hujan akan lebih sering datang dimana saja.
Pasti kamu senang ya Pangeran Cahaya.
Satu yang selalu tak bosan aku ingatkan.
Sediakan payung di tasmu.
Berapa kali kubilang, tidak ada yang salah jika seorang laki-laki harus memakai payung.

Ingat pesanku ya Pangeran Cahaya.
Hari  ini flu ku sudah mereda.
Tetapi berganti menjadi batuk berdahak ditambah sesak yang membuatku sulit tidur.
Tuh, kamu juga tidak mau jatuh sakit seperti aku kan?


Sedang banyak angin di luar sana, tapi aku enggan menghampiri mereka karena batukku bisa semakin parah jika bertemu mereka.
Iya, tenang saja.
Rindu itu tak pernah padam kok di sini :)
Sampai besok Pangeranku.


.....oOo.....


Untuk meramaikan #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3

Sabtu, 31 Januari 2015

Ingin ke Pantai


Pangeran Cahaya, entah kenapa aku ingin sekali ke pantai.
Menikmati semilir angin.
Berlari menghindari ombak.
Aku juga ingin melihat pantai di kotamu.
Walaupun langit kita sama, tentu pantainya berbeda-beda.

Apa kau pernah mendengar tentang Pantai Menganti Pangeran Cahaya?
Katanya di sana udang-udang di daerah itu besar-besar.
Pasti kau akan senang jika ke sana.
Udang asam manis kan makanan favoritmu.

Di sana juga ada mercusuar katanya.
Ah tapi untuk menuju ke mercusuar itu jalannya terjal dan berbatu-batu.
Mungkin lebih baik mengunjungi mercuar yang di Aceh saja ya Pangeran Cahaya.

Coba di kota ini ada pantai cantik, mungkin sekarang juga aku akan segera ke sana.
Ah tapi pasti menjadi kurang seru karena tidak bisa berbagi pemandangannya denganmu.


..... oOo .....


Untuk memeriahkan #30HariMenulisSuratCinta hari ke-2

Jumat, 30 Januari 2015

Apa Kabar Pangeran Cahaya?




Apa kabar kamu, Pangeranku?

Ah aku lupa kamu paling benci ketika harus ditanyai tentang kabar bukan?
Pertanyaan itu sering membingungkan untuk dijawab katamu. Kadang ketika berada di keadaan tidak baik-baik saja tentu bukan ide yang bagus untuk mengatakan sejujurnya kepada lawan bicara kita. Tidak apa-apa jika kamu membalasnya nanti dengan jawaban 'tidak baik-baik saja' kepadaku. Karena aku juga sedang begitu.

Dua hari ini aku terserang flu. Aku juga bingung mengapa aku menceritakan ini padamu. Mungkin hanya mencari sedikit perhatian saja. Kamu nggak papa kan aku cerita begini kepadamu.

Ah sudah lama kita tidak berkirim surat. Aku rindu bercerita pengalaman-pengalaman kecilku setiap hari kepadamu. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir aku mengirimu surat. Aku juga sudah lama berhenti menitipkan rinduku pada Tuan Angin.

Kamu tau, akhir-akhir ini aku jarang menulis lagi. Mungkin itu juga menjadi salah satu alasan mengapa aku tidak mengirimu surat lagi. Entahlah seperti ada yang salah dengan menulis. Itu tidak banyak membantuku akhir-akhir ini. Tapi sepertinya aku akan mulai menulis lagi. Aku sudah terlalu jauh keluar dari jalur akhir-akhir ini. Seperti katamu, menulis adalah katarsis emosi yang positif bukan. Jadi tidak ada salahnya aku memulai sesuatu yang sudah lama aku tinggalkan ini.

Kamu jangan bosan membaca suratku ya, karena mulai sekarang aku akan sering-sering mengirim ocehan tidak pentingku lagi ke kamu seperti dulu.

Baik-baik di sana dan semoga aku juga juga menjadi semakin baik di sini.


***

Untuk meramaikan #30HariMenulisSuratCinta #Hari1




Buat yang mau baca surat-surat sebelumnya ->  Surat Untuk Pangeran Cahaya


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...