Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gayo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

Sore Berangin di Bolang Baling Pendere



Takengon
Bolang baling Pendere


Assalammu'alaikum wr wb

Sore itu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2016 saya dan sepupu saya Uli janjian untuk ke salah satu tempat rekreasi di Takengon. Bolang baling ini letaknya di desa Pendere.

Untuk mencapai ke sana, dari kota Takengon kalian bisa mengambil arah perjalanan ke toa. Setelah Tan Saril kalian akan menemukan sebuah gang ke arah kiri. Tenang aja ada penandanya kok, tapi saya nggak sempat ambil fotonya. Jalannya menanjak dan kurang bagus, juga licin kalau hari hujan jadi hati-hati buat kalian yang memilih ke sana di saat musim hujan seperti sekarang ini.


Bolang baling ini tidak terlalu besar, hanya memiliki 16 bilik. Waktu itu saya dan sepupu saya memilih ke sana pada sore hari. Hari agak mendung sebenarnya, malah sempat hujan juga saat perjalanan kami ke sana.

Saya dan sepupu saya, Uli



Tiket untuk menaiki bolang baling ini adalah Rp 10.000 dan walau yang sewa cuma satu orang juga bakal diputerin bolang balingnya.

Tempatnya sebenarnya asri dan lumayan luas. Sudah terdapat toilet dan taman bermain kecil untuk anak-anak. Di sekeliing kompleknya juga terdapat kebun kopi milik warga. Tetapi kita tidak dapat melihat pemandangan Danau Lut Tawar dari sini karena ditutupi oleh bukit.

Sayang sekali tempat ini tidak terlalu ramai, mungkin karena lokasinya kurang strategis ya, saya juga kurang tau kenapa. Atau mungkin pengelolanya perlu buat sesuatu yang beda biar menarik banyak pengunjung ke sana.

Takengon
Lihat, cakep kan pemandangannya


Well, saya agak takut juga waktu menaiki bolang balingnya, yah memang dasarnya saya juga penakut orangnya, hehehe. Tapi setelah dicoba tidak menakutkan kok, karena muternya juga pelan. Yah mungkin kalau ke sana lagi asiknya rame-rame kali ya.

Lihatlah wajah keyakutan saya, hahaha...


Yah semoga bisa menjadi referensi buat kalian sedang berkunjung ke Takengon ya teman. Oia masih ada yang tanya Takengon itu dimana? Takengon itu ibu kotanya Kabupaten Aceh Tengah ya teman-teman.

Maaf fotonya hanya sedikit, file fotonya nyelip entah di memori yang mana (bilang aja males nyari dan ngedit chi, hehehe).


Kamis, 10 September 2015

Pacu Kude, Tradisi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di Takengon

Seperti tahun-tahun sebelumnya Pacuan Kuda atau lebih dikenal dengan sebutan 'Pacu Kude' oleh masyarakat Gayo menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.



Biasanya Pacuan Kuda dilaksanakan selama seminggu penuh dan pada hari minggu merupakan puncak atau finalnya, jadi pada hari minggu hampir semua masyarakat Takengon atau dari beberapa kabupaten sekitar akan berdatangan memenuhi Lapangan Pacuan Kuda HM Hasan Gayo Belang Bebangka di Pegasing.

Untuk mencapai Lapangan jika kalian tidak memiliki kendaraan sebenarmya tidak sulit. Karena biasanya jika musim pacuan kuda seperti ini maka angkot atau yang lebih dikenal dengan sebutan labi-labi akan langsung masuk ke komplek lapangannya, jadi kita juga nggak perlu jalan jauh dari jalan utama menuju ke lapangannya. Untuk tarif normal penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000, tetapi kadang suka dinaikin juga ongkosnya jadi Rp 7.000. Jadi jangan lupa bertanya dulu sebelum membayar ya. Dari pusat kota kalian tinggal mencari labi-labi yang bertuliskan TOA aja pasti langsung nyampe kok.

Pada hari minggu (23/8/2015) saya menuju ke Lapangan HM Hasan Gayo dengan menumpang labi-labi. Berangkat lebih pagi dapat menghindari kemacetan juga buat kita. Ya walau jarak dari pusat kota Takengon tidak terlalu jauh ke Lapangannya, tapi ya kalau sudah terjebak macet kan nggak asik juga.

Pacuan kuda ini biasanya dimulai sekitar jam 10 - 11 pagi. Nah datang lebih pagi juga memudahkan kita untuk mencari lokasi menonton yang bagus dan tidak berebutan dengan penonton yang lain. Ya tapi ingat-ingat jangan melewati pagar pembatas ya saat menonton. Karena kita kan nggak bisa menduga kudanya bisa berlari ke arah mana aja, ya demi keamanan tentunya.


Suasana tribunnya
dilihat dari kejauhan,
padat ya...

Suasana di tengah
lapangan.


Pacuan kuda di Takengon ini masih bersifat tradisional. Jokinya biasanya berkisar antara anak-anak dan remaja, tetapi belum memiliki perlengkapan keamanan bagi jokinya.



Yang jualan juga rame, mulai dari yang jualan makanan, peralatan dapur, buah-buahan, pakaian baru maupun bekas, sampai yang jualan masker juga ada.

Abang-abang ini minta difoto
dikirain sayanya wartawan sama
mereka, hahaha...


Jemblang atau Jambu Keling
jajanan ini juga merupakan
jajanan khas karena
kebetulan masa panennya
jatuh di bulan
Agustus.


Burung pipit ini
banuak dibeli oleh anak-anak.
Tapi kesian burungnya dicat gitu,
tadinya saya kira
itu warna alaminya :(

Lagi-lagi sayanya
dikirain wartawan,
abang-abang supir labi-labi
ini minta difotoin juga :D

Tradisi pacuan kuda ini sudah berlangsung sejak abad ke-19. Dulunya dilakukan di pinggir Danau Lut Tawar sebelah timur sebelum pindah ke Lapangan Musara Alun di daerah kota sampai akhirnya dipindahkan lagi ke Lapangan HM Hasan Gayo ini.

Buat kalian yang memiliki waktu luang di bulan Agustus, event ini salah satu event yang sayang untuk dilewatkan teman-teman.



Rabu, 16 Juli 2014

Ramadhan di Takengon, Tidak Lengkap Rasanya Tanpa Cecah Bajik

Assalammu'alaikum wr wb

Huaaa udah lama nggak tersentuh blognyaaaa....
*pukpuk blog


Kali ini chi mau berbagi cerita tentang salah satu makanan khas di Takengon, Aceh Tengah yang biasa dijadikan sebagai menu berbuka. Makanan itu adalah cecah bajik. Kalau biasanya yang dikenal dengan kata cecah itu adalah ragam jenis sambel-sambelan, nah cecah yang satu ini beda. Cecah bajik ini lebih mirip dengan rujak sebenarnya.

jenis cecah


Bajik sendiri artinya adalah buah nangka yang masih muda (sekali) yang biasanya masih sebesar jempol kita dan cecah bajik sendiri ya memang berbahan dasar buah nangka muda. Lalu ditambah dengan pisang muda, jambu kelutuk, terong belanda, nanas, daun pepaya, gula aren dan garam. Cara membuat cecah bajik ada yang diulek atau ditumbuk dengan menggunakan alu.

Rasanya campur-campur ya, ada kelat, manis dan asam. Hehehe tapi beberapa hari yang lalu sempat bikin di rumah sama mama, bahannya kurang alias apa adanya, walhasil warnanya agak kelam ya. Soalnya nggak ada nanasnya. Biasanya kalau ada nanasnya jadi agak cerah warnanya :)

bahan-bahan cecah


Cecah bajik sendiri katanya bagus untuk pencernaan loh.

Nah buat kalian yang mau nyoba bikin bahannya nggak sulit dicari kan, selamat mencoba ya. Pokoknya Ramadhan di Takengon, Tidak Lengkap Rasanya Tanpa Cecah Bajik :)




Sabtu, 19 April 2014

Catatan Kecil Tentang Pabrik Gula Mini di Aceh Tengah

Assalammu'alaikum wr wb

Tadi bongkar-bongkar notes eh malah nemu catatan kecil obrolan saya dengan papa tentang Pabrik Gula Mini (PGM) yang pernah ada di Aceh Tengah. Pabrik ini kalo katanya papa adalah pabrik gula mini pertama di Indonesia, tetapi ternyata setelah saya googling ada satu lagi si Sumatera Barat :)

Kata papa (lagi) pabrik ini didirikan di kampung Buter, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 1978. Tapi lagi-lagi setelah googling, catatan sejarah mengatakan pada tanggal 17 Oktober 1979. Hmm mungkin papa ngitungnya sejak pabrik ini dibangun kali ya, hehehe...

Tapi sayang, pabrik ini gagal dalam pengoperasiannya. Di daerah Blang Mancung memang notabene adalah daerah perkebunan tebu, jadi masalahnya bukan terletak pada sumber daya alamnya. Masalahnya ada pada sumber daya manusia, alias tenaga kerjanya. Pabrik ini mengadopsi cara kerja Hindia, yaitu sistem padat karya. Jadi lebih mengandalkan
tenaga kerja manusia, bukannya mesin.

Nah di daerah ini dulunya tidak terlalu padat penduduk, tentu saja ini jadi masalah. Di sisi lain, sistem kerja padat karya sudah jelas memerlukan tenaga kerja yang tidak sedikit. Bayangkan, semuanya serba manual, dari mulai memanen tebunya, memeras air tebu, juga memasak air tebunya pun masih memakai wajan besar. Waktu itu, pemda juga sempat menyewa tenaga kerja dari sumatera utara, tetapi pengeluaran juga menjadi semakin bertambah. Jadilah pabrik ini pun ditutup pada akhirnya. Sayang papa lupa cerita itu terjadi pada tahun berapa.

Sekarang, pabrik ini hanya tinggal nama saja. Satu besi penopangnya pun sudah tidak ada lagi. Kata papa banyak yang menjarahnya saat masa-masa konflik di Aceh lalu. Sayang sekali ya :(

Oiya, desa Buter itu berada dekat dengan pusat gempa 6,2 SR yang terjadi 6 Juli 2013 lalu di Aceh Tengah. Di sana masih banyak terdapat perkebunan tebu juga sampai sekarang.

Jujur saya sendiri belum pernah ke lokasinya. Saat musibah gempa pun kami memilih untuk tidak hanya ke sana untuk sekedar menonton para korban di sana. Karena saat itu kami sekeluarga sedang berduka karena beberapa hari sebelumnya kakek saya meninggal dunia.


Yah kalau bukan karena kejadian gempa itu, papa saya juga mungkin tidak akan menceritakan setitik sejarah ini ke saya.

Dari cerita ini jadi makin sadar kalau masih terlalu banyak yang belum saya ketahui tentang tanah kelahiran saya, Aceh Tengah :(



Rabu, 02 April 2014

Leuser Coffee from Gayo Land

Assalammu'alaikum wr wb

Setelah di postingan yang lalu saya bagi-bagi kopi buat dua orang yang beruntung, nggak ada salahnya Chi kenalin produk salah seorang sahabat Chi ini ke kalian ya teman-teman.

Leuser Coffee sendiri adalah home industry yang memproduksi kopi arabika, khususnya kopi Gayo. Pada tau kopi Gayo nggak teman-teman? Gayo sebenarnya adalah nama suku yang ada di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Nah karena di sana adalah daerah dataran tinggi yang cocok ditanami kopi, sehingga kopi adalah tanaman khas di sana. Nah karena khasnya itu, jadilah kopi hasil perkebunan di sana lebih dikenal dengan sebutan kopi Gayo.



Kopi Berkualitas



Baiklah, kembali lagi ke Leuser Coffee ya. Kemarin sempat nanya-nanya dikit sih sama Danurfan, si sahabat yang punya usaha ini. Yuk kita simak Tanya jawab singkatnya yuuuuk…..

“Awalnya bisa membuka usaha ini, motivasinya apa ya best?”
“Karena suka kopi. Kopi itu seperti istri kedua sih. Karena kopi itu juga menjadi komoditi terbaik dari Aceh, khususnya Gayo”.


“Usaha ini dimulainya kapan ya best?”
“Pada awal tahun 2013”


“Sebenarnya apa cerita di balik nama Leuser Coffee itu best? Dan kenapa memilih nama itu?
"Aku mengambil nama Leuser itu karena kebanggaan tersendiri dengan kawasan hutan Aceh yang menjadi paru-paru dunia saat ini, selain basic orang yang suka atas isu konservasi lingkungan hidup jua sih. Dan penjualan setiap bungkusnya aku hibahkan Rp 1.000 untuk penanaman pohon, edukasi lingkungan hidup, baik perubahan iklim, global warming dan upaya penyadartahuan soal konservasi lingkungan hidup tadi”.


Kopi Gayo



“Terus kalo productnya apa hanya kopi arabika saja?”
“Iya, cuma arabika saja. Dan kopinya berasal dari Bener Meriah dan Takengon. Dalam pembelian bahan baku aku memberikan premium fee kepada mereka Rp 3.000 di setiap kg bahan bakunya sebagai apresiasi kepada petani kopi”.


“Mimpi kamu ke depan bersama Leuser Coffee apa best?”
“Mimpi ke depan bersama Leuser Coffee adalah bisa memberikan wujud mimpi untuk membantu kesinambungan dalam melestarikan alam dan pastinya membuka lapangan kerja juga”.




Nah itu dia wawancara abal-abalnya, hihihi…
Walau singkat dan padat, tapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari jawaban sahabat saya yang satu ini. Semangat dan kepeduliannya terhadap lingkungan itu yang harus diacungi jempol. Pada termotivasi nggak nih hey kalian yang juga lagi mencoba membuka usaha sendiri. Kalo saya mah iya, hehehe…

Oia Danurfan, yang punya sapaan akrab Gem dari teman-temannya ini adalah sabahat saya sejak SMP. Selain pecinta kopi, dia juga merupakan pemerhati lingkungan yang juga aktif di Tropical Society dan banyak kegiatan sosial lainnya. 



Leuser Coffee

Belajar sambil bermain
Gem bersama anak-anak petani di kampung
Jagong Jeget, Aceh Tengah.


Semoga terinspirasi ya teman.



Buat yang pengen order, silahken hubungi 
Twitter     : @IndieGem
Facebook  :  Danurfan




Sabtu, 01 Maret 2014

Bertemu Bayi Burung Prenjak

Assalammu'alaikum wr wb

Hari minggu yang lalu, saya ikut ke kebun kopi milik orang tua saya. Tujuan kami hari itu adalah mengutip buah kopi sama mama. Sedangkan papa membuang tunas baru atau cabang-cabang pada pokok kopi agar tidak terlalu rindang dan mengganggu pertumbuhan bunga dan buah.

Nah tiba-tiba papa menemukan sarang burung liar di salah satu pokok kopi. Wah saya yang kegirangan melihatnya. Seperti jadi rahasia umum, semua bayi itu selalu terlihat manis dan lucu ya kaaan....

jenis burung

Tidurnya pulas sekali, iiiih gemes....

Menurut papa, itu adalah bayi burung Prenjak. Kesian juga melihatnya, karena dia hanya sendirian di situ. Sang induk mungkin sedang mencari makan. Si bayi burung itu saya lihat juga tertidur pulas. Ah mungkin bayi burung juga sama seperti bayi manusia ya, siklus tidurnya panjang.

Oiya, ada satu hal baru yang saya pelajari hari itu dari papa. Ternyata, kebanyakan burung liar tidak suka anaknya diganggu gugat oleh makhluk lain. Jadi jangan coba untuk memegang anak burung itu ya. Karena jika sudah ada bau manusia pada bayi itu, induknya justru akan menelantarkan anaknya, atau ditinggalkan begitu saja. Wah kesian juga ya, untung saya tidak nekat ngelus-ngelus bayi burung itu tadinya.

jenis burung


Kalau lihat sangkar burung liar seperti itu, rasa takjub atas kebesaranNya selalu berasa. Kalau diperhatikan, gimana coba itu ranting-ranting dan rerumputan kering itu bisa dijalin sedemikian rupa menjadi sebuah sangkar seperti itu? Subhanallah... :)

sarang burung

Sangkarnya terlihat secara utuh

Hmm besok saya akan ikut ke kebun lagi dan akan mencoba untuk menjenguknya lagi. Wah mudah-mudahan dia sehat ya. Atau mungkin sudah belajar terbang aja, hihihi....




Rabu, 13 Februari 2013

Aceh Itu Tetap Istimewa

Assalammualaikum




Walau lahir dan besar di Aceh, bukan berarti Chi tuh udah serba tahu tentang Aceh loh. Chi kan besar di Takengon, tepatnya Aceh Tengah ya, tapi bukan berarti jadi enak kemana-mana karena berada di tengah-tengah itu. Habis Takengon kan daerah pegunungan ya, jadi nggak segampang itu juga ke kabupaten lain. Ditambah juga sewaktu masa sekolah dulu kan lagi masa-masa konflik ya di Aceh, walhasil jadilah diriku mendekam saja di tengah-tengah Aceh itu, hehehe…



Aktivitas nelayan di Danau Laut Tawar
Takengon




Pelabuhan Ulee Lheule, Banda Aceh




Kuala, Langsa



Nah karena alasan-alasan itulah Chi itu sebenarnya nggak banyak tau tentang Aceh sebenarnya *minta digeplak sama orang se-Aceh. Klise ya, tapi ya begitulah adanya, ditambah diriku yang super duper cuek dulunya jadi nggak pernah mau tau tuh tentang sejarah dan beragam budaya di Aceh. Beda dengan sekarang, karena kalo ditanya-tanya tentang Aceh Chi suka nggak bisa jawab, jadilah harus banyak cari tau. Ya salah satunya ya rajin mantengin akun twitternya @iloveaceh. Soalnya banyak teman-teman kita dari berbagai belahan Aceh berbagi info di sana. Mulai dari berbagi info cuaca, info event, mau titip pertanyaan juga boleh. Mereka juga suka ngasih link-link menarik all about aceh, asal rajin baca aja kitanya, hehehe… Yang paling asik juga jadi nambah teman juga kan :D



Kebet, Aceh Tengah



Gunung api, Bur Ni Telong tampak dari Lampahan, 
 Bener Meriah



Banyak orang mengira di Aceh itu hanya didominasi sama suku Aceh aja, padahal salah loh. Di Takengon justru lebih di dominasi sama suku Gayo. Nah di beberapa kabupaten juga terdapat beberapa suku lain yang lebih mendominasi, bahasa dan budaya juga berbeda-beda loh. Di daerah pesisir juga mereka walau bahasanya mirip, tetapi juga punya dialek atau logat yang berbeda. Kalo Chi ya jelas lebih familiar dengan budaya dan bahasa Gayo, karena memang besar di lingkungan yang didominasi oleh suku Gayo. Dan di sekitar rumah justru banyak dikelilingi oleh suku Padang, maklumlah mereka itu kan hobinya merantau ya. Mau di pelosok Indonesia bagian mana juga kayaknya ada ya, hehehe… Yah dari banyak perbedaan itu yang penting ya kalo rukun dan damai terus tetap jadi satu kan ujungnya :D



Deretan pohon pinus di Kecamatan Isak, Aceh Tengah




Kuda pacuannya baru pulang latihan nih, Takengon



Deretan pohon bakau di Kuala, Langsa

Di Aceh juga pertanian merupakan mata pencarian kebanyakan penduduknya. Kalo di daerah pesisir lebih dikenal dengan sawah mereka yang super duper luas itu, nah kalo di daerah pegunungannya banyak yang bertani kopi. Hey udah pada tau kan tentang ketenaran Kopi Gayo? Pasti udah lah ya *kalo belum, heiii kalian kemana aja nggak tau berita penting ini? *sombong



Bunga kopi, Bebesen, Aceh Tengah


Tahun ini tuh kan ada program Visit Aceh gitu ya, wah pasti seru tuh bisa jalan-jalan keliling Aceh ya… Jalan-jalan kan juga bisa sekalian sambil mempelajari budaya sama sejarah-sejarah di sana. *mupeng Tapi agak disayangkan juga, sekarang tuh perasaan kalo ngomongin Aceh pasti orang nangkepnya Sabang aja. Padahal masih banyak tempat-tempat menarik di belahan Aceh lain. Mau di daerah pesisir sampai pegunungannya, banyak yang bagus loh. Apalagi di Takengon, Danau Laut Tawarnya nggak kalah bagus kok *tetap promosi tanah kelahiran :p

Pokoknya walau Aceh bukan termasuk daerah istimewa lagi dalam penyebutannya, tetap aja Aceh selalu istimewa di hati *tsaah Hayooo pada pengen ke Aceh juga kan kalian?





Selasa, 05 Juni 2012

Selamat Hari Lingkungan Hidup dan Ada Lomba Resam Berume “Munoling” nih

Assalammualaikum

Haloooo holaaa...
Selamat Hari Lingkungan Hidup ya teman-teman.... Yuk sama-sama menjaga lingkungan kita \(>o<)/
Huuuaaa ini aku belum bisa lepas juga dari tisu, tapi masih berusaha juga...
Kebetulan tv di kontrakan juga udah 2 bulan ini rusak, jadi walhasil kami juga puasa nonton tv plus berhemat listrik. Hahaha kesannya jadi pembenaran semua ya ini.. :p
Tapi yang penting yuk mulai dari yang kecil dan mulai saat ini juga :)




Ngomong-ngomong tentang lingkungan, aku mau share nih tentang event kebudayaan di Takengon, Aceh Tengah --> kampung halamanku. Ntar tanggal 10 Juni 2012 bakal ada Lomba Resam Berume "Munoling" di sana. Pasti pada bertanya-tanya itu event apaan kan? Yuk mari simak penjelasannya...


Jadi Resam berume itu adalah tata cara bercocok tanam padi dari proses menanam sampai memanennya. Ini adalah istilah tradisional bagi suku Gayo. Nah di event ini sih yang mau diperlombakan itu proses Munulinnya, alias cara memanennya. Nah pesertanya itu berasal dari beberapa kampung yang ada di sana. Acara ini bakal diadain di daerah Kala, Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah. Nah letaknya dekat Danau Laut Tawar nih. Jadi selain bisa lihat proses perlombaanya kita juga disuguhi pemandangan DanauLaut Tawar yang asri.. yaayy...

Ternyata juga ya, proses memanen yang diperlombakan itu bukan cuma gimana cara memotong padi yang baik dan benar aja loh. Ada beberapa point yang bakal dinilai. Diantaranya:
  • munuling (memotong padi)
  • mujereng (memasak masakah khas untuk dikonsumsi anggota tim)
  • nos seladang (membangun gubuk sementara sebagai gudang padi)
  • mubenuh (memindahkah panen padi ke seladang)
  • natur (menata padi yang sudah dipanen ke seladang)
  • nejik (merontokkan padi)
  • munejes (memisahkan butiran padi dengan jerami)
  • munangin (pemisahan butiran padi yang berkualitas bagus dan jelek dengan tenaga angin)

Huaaa ribet ya ternyata, prosesnya ampe banyak gitu...
Selain caranya tradisional sekali, juga ramah lingkungan...
Menurut aku acara ini bagus banget ya untuk melestarikan budaya Gayo sendiri, yah sebagai daerah yang punya banyak potensi pariwisata, ini juga jadi daya tarik orang untuk dateng ke Takengon. Sayang akunya nggak bisa pulang, padahal pasti seru acaranya. Karena bakal ada acara pertunjukan seni tradisional Gayo dan pameran foto juga. Huaaa .... mupeng....

Ayo-ayo... yang lagi di Takengon jangan sampai ketinggalan event yang satu ini...
Terus kalo pada mau tau gimana proses Resam Berume yang jelas itu, ada nih penjelasannya di blognya temanku Arijoba, baca di sini aja  Munuling (Panen Padi)


*Ya ampuuuun... Medan beberapa hari ini panasnya gila-gilaan. Nggak minum aja keringatan. apalagi kalo minum. .. Pengen punya taneman juga di depan rumah, doakan semoga kesampaian dan nggak males ngerawatnya \(>0<)/



Senin, 21 Mei 2012

Cuap-cuap Tentang Kopi

Assalammualaikum

Kali aku mau cuap-cuap tentang kopi nih. Walau dari kecil aku sudah familiar dengan kopi, aku ini bukan termasuk orang yang maniak kopi. Malah bisa dibilang jarang kalo mengkonsumsi kopi. Di rumah cuma mama sama abangku doank yang minum kopi. Yah palingan kalo minum kopi itu ikutan nyeruput dari gelasnya mama aja kalo mama lagi ngopi. Mamaku bisa dibilang addict sih sama kopi, ampe kalo nggak minum kopi pagi hari seharian bisa pusing-pusing tuh. Tapi sejak tekanan darahnya sering naik, akhirnya kami di rumah berusaha ngurangin kebiasaan mama yang over itu kalo minum kopi. Dulunya bisa 4-5 kali minumnya sehari dengan ukuran segelas, sekarang dua kali sehari dengan ukuran setengah atau sepertiga gelas aja. 

Lagi-lagi kalo ditanya tentang kopi itu aku banyak nggak ngertinya. Walau sering bantuin ngutip buahnya, boro-boro ngerawat, nanamnya aja nggak pernah. Well di rumah itu anak mama papaku nggak ada yang berbakat berkebun. Tangannya juga pada panas semua, tau deh apa itu pengaruh kebiasaan atau nggak, hehe... Tau deh ntar kebun papaku siapa yang bakal ngurusin kalo papa mama udah nggak bisa ngerawat lagi *tepuk jidat

Walau nggak terlalu mengenal kopi, aku ini tetap pecinta kopi. Aku suka aroma manisnya kopi yang matang di batangnya, biasanya nih bakal kecium pas kita ngutip buah kopi. Aku suka aroma biji kopi saat digongseng sebelum digiling menjadi bubuk kopi yang siap dibuat menjadi minuman. Tapi ampe sekarang aku nggak pernah menggongseng sendiri. Paling bantuin mama pas awalnya doank, sebelum biji-biji kopi itu kubuat gosong, hehe... Aku juga paling suka aroma bubuk kopi saat diseduh air panas. Huuaaa harumnya itu, jadi kangen mama...

Wah ini rada parah ya sebenarnya. Dari kecil dikelilingi kopi tapi ampe sekarang nggak tau menau tentang kopi. Jadi kayak dekat di mata, jauh di hati gitu..  How pitty I am... hiks... Nyeselnya baru dateng sekarang :( 

Oia seminggu yang lalu aku dapet kiriman kopi dari my best Indie Gem di Banda Aceh. Temanku ini kebetulan bekerja di Warung Rumoh Aceh. Salah satu warung kopi yang lagi naik daun di Banda Aceh sono. Aku juga sebenarnya penasaran pengen maen kesana. Karena sesuai namanya, bangunan warung ini berbentuk rumah tradisional Aceh. Oia terus kopi yang dijual di sana juga berasal dari Tanoh Gayo alias tanah kelahiranku, yang biasa dikenal dengan kopi Gayo. Kalo mau lebih jauh tentang Warung Rumoh Aceh boleh intip dimari nih... Warung Rumoh Aceh

Temanku ini sekarang ahlinya meracik kopi disana, sayang aku belum pernah ngerasain racikannya. Waktu ke Banda Aceh di akhir tahun kemarin nggak sempat mampir ke warungnya, hiks... Tapi dengan kebaikan hatinya, sahabatku ini ngirimin aku dan Mimi sebungkus kopi arabica dan kopi luwak. Thanks a lot ya my best. Tinggal janjiku nih yang belum terpenuhi untuk ngajak dirimu ke kebun kopi papaku yang tak seberapa itu, hehe...

Ini dia kemasan luarnya


Ini kopi luwak yang mahalan ituuuu....


Ini kopi arabicanya dan si Gem salah ngirim versi espressonya 
walhasil ampasnya kasar gitu


Buat kalian yang lagi berkunjung jangan lupa mampir ke Warung Rumoh Aceh yang beralamat di Jln. Rawa Sakti V no 122B - Banda Aceh, Indonesia.

Salam pecinta kopi (>o<)b

Selasa, 17 April 2012

Ikutan Sayembara Logo "Festival Danau Lut Tawar 2013" yuuuk


Assalammualaikum

Halo hola…
Buat teman-teman yang hobi desain, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Tengah lagi gadain lomba desain nih. Walau hadiahnya nggak seberapa itung-itung ngebantu promosiin Danau Laut Tawar juga kan. Nah kalo pada tertarik let’s see aturannya di bawah ini:

Waktu pelaksanaan
Pelaksanaan Sayembara Desain Logo "Festival Danau Lut Tawar 2013" ini dilaksanakan selama sebulan penuh, terhitung mulai tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 2012, dan pemenang akan diumumkan pada 21 Mei 2012.

Tujuan Sayembara

1.   Menghasilkan logo resmi "Festival Danau Lut Tawar 2013" yang akan digunakan dalam semua materi kegiatan persiapan dan pelaksanaan "Festival Danau Lut Tawar 2013".
2.   Memberi kesempatan bagi masyarakat seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam "Festival Danau Lut Tawar 2013" lewat desain logo.

Ketentuan Sayembara   

1. Terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya pendaftaran. 
2. Staf termasuk non PNS di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Tengah, tidak dibenarkan mengikuti sayembara ini.
3.    Logo selambat-lambatnya dikirim panitia Sayembara paling lambat tanggal 15 Mei 2012. 
4.  Panitia hanya menentukan 1 (satu) desain logo sebagai pemenang.
5.  Semua logo yang masuk menjadi hak milik Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten  Aceh Tengah.
6.  Keputusan dewan juri adalah mutlak, dan dewan juri berhak untuk membatalkan keseluruhan proses penjurian apabila seluruh karya yang masuk tidak sesuai dengan yang diharapkan.

 Ketentuan logo
1.   Logo mencerminkan tema "Festival Danau Lut Tawar 2013" yang menekankan pada Sapta Pesona Pariwisata dan unsur kedaerahan (Seni dan Budaya Gayo)
2.   Logo yang dibuat merupakan ide asli (bukan saduran/jiplakan), dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya atau diikutsertakan dalam sayembara lainnya.
3.   Logo dapat berbentuk gambar (logogram) atau tulisan (logotype) atau kombinasi antara gambar dan tulisan. Desain logo dibuat dalam dua versi: berwarna dan hitam putih
4.   Logo didesain dengan menggunakan komputer dengan ukuran kertas A4 (portait atau landscape) dalam 2 versi (warna, hitam putih) dan logo terlihat jelas apabila dikecilkan sampai dengan resolusi 100 px x 100 px.
5.   Apabila disertakan dengan penjelasan atau narasi atas arti dari logo tersebut merupakan nilai tambah untuk peserta.
6.  Apabila terpilih, dewan Juri dan pantia berhak melakukan perubahan desain dan pemenang wajib untuk melakukan revisi desain apabila diperlukan dan panitia berhak membatalkan logo yang telah terpilih sebagai pemenang untuk menjadi logo resmi Festival Danau Lut Tawar 2013.
7.   Kepada pemenang diwajibkan untuk mengirimkan CD file hasil design dalam format vektor (EPS/CDR/SVG) dengan resolusi minimal 2000 px.
8.   Logo yang dikirimkan akan ditampilkan di halaman komunitas facebook I Love Gayo.
9.   Pengumuman pemenang akan dilakukan melalui situs media online Lintas Gayo.
10. Peserta mengirimkan karyanya ke e-mail wisataacehtengah[at]yahoo.co.id dan wisatagayo[at]yahoo.com dengan menyertakan data identitas (nama, alamat, e-mail, nomor telepon yang dapat dihubungi), file foto diri dan foto KTP.
11. File logo dikirimkan format (JPG atau PNG atau GIF) dan untuk 1 (satu) orang peserta dapat mengirimkan  maksimal 3 design logo.
12.Cantumkan nama, alamat, email, nomor telepon, dan keterangan/narasi tiap komponen logo yang  
    disayembarakan

Dewan Juri
1.     Julihan Darussalam
2.   Novarizqa Saifoeddin
3.   Irwansyah

Hadiah
Pemenang Sayembara Desain Logo "Festival Danau Lut Tawar 2013" berhak atas hadiah uang tunai sebesar Rp 1.500.000,- (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) dan akan diserahkan pada tanggal 30 Mei 2012 di kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga kabupaten Aceh Tengah.

Contact Person
Untuk informasi yang kurang jelas bisa ditanyakan melalui email wisatagayo@yahoo.com atau dengan menghubungi Iwan di nomor 085260447103.

Ayo buruan ikutan, mana tau kalian salah satu yang beruntung. Danau Laut Tawar itu indah loh…
\(>o<)/







Nelayan yang sedang menjaring ikan
di Danau Laut Tawar


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...