Assalammualaikum
Wajah yang sudah berkeriput itu
tampak sedang sibuk membungkus tiwul dagangannya. Dengan tiwul sebaskom,
parutan kelapa segar dan helaian daun, ia duduk di sebelah ibu-ibu penjual
kue-kue lainnya.
“Beli sama nenek itu aja, lebih
enak tiwulnya.” Ujar mama.
“Ia ma”, jawabku sambil bergegas
menuju tempat nenek itu duduk berjualan.
Hihi ini fotonya nyuri-nyuri
misterius ya wajahnya :p
karena belum tau kalau beliau temannya nenekku tuh
Sesampainya di rumah mama baru
cerita. Ternyata sang nenek adalah teman almarhum nenekku. Termasuk teman
dekatnya malah.
“Yah ma, kenapa baru cerita
sekarang?” tanyaku.
“Loh memangnya kenapa?” mama
balik nanya.
“Tau gitu kan Chi bisa nanya-nanya dulu sama neneknya,
pengen cerita tentang nek Mbok” jawabku.
“Ya udah besok-besok kan masih bisa” ujar
mama.
Teringat akan nenek itu, aku jadi
kangen sama almarhum nenekku. Kami di rumah biasa memanggilnya dengan Nek Mbok.
Pasti pada bertanya-tanya ya, kok panggilannya gitu? Yah lebih baik kalian tanya aja sama my big sister ya, karena yang jelas kami bertiga ngikutin dia
aja, hehehe… Yang jelas papa dan mama memanggil almarhumah dengan panggilan
MBOK, mungkin karena itulah kami mengganti nama nenek dengan sebutan MBOK juga.
Aku jadi kangen dengan almarhumah
nenekku yang suka sekali mendongeng sebelum kami tidur. Nenek juga suka buatin
kami wayang-wayangnya dari batang daun singkong *nyesel dulu nggak belajar yang
satu ini sama beliau… Melihat nenek penjual tiwul, aku jadi pengen
cerita-cerita tentang nek mbok dengan beliau. Apa beliau juga pernah memakai
baju dari kain goni seperti yang pernah diceritakan nenek dulu ya? Apa beliau
juga pernah bertukar kebaya jika ada pesta teman-temannya. Ah ntar kalo aku
pulang aku mau nyapa nenek itu ah. Ingin rasanya tau bagaimana teman nenekku.
Karena selama hidupnya, aku tidak tau kalau nenekku masih punya teman seumuran
yang masih hidup. Mereka sama-sama wanita yang kuat. Si nenek masih kuat
berjualan sampai sekarang, nenekku juga masih kuat mengangkat wajan besi yang
biasa digunakan mama untuk memasak bahan-bahan jualan sebelum jatuh sakit yang hanya beberapa minggu sebelum beliau berpulang. Kata mama, beliau sering
menanyakan kabar nenekku ketika masih hidup dulu. Ya ampun, aku sangat tidak
menyangka kalau tiwul yang sering dibelikan mama itu buatan teman nenekku
sendiri.
Huaaaa jadi pengen ngemil tiwul
nih *lap iler