Assalammu'alaikum wr wb
Pada tau buah rembele nggak teman-teman?
Eh tapi saya juga nggak tau nama umumnya apa dalam bahasa Indonesia, hehehe.
Rembele adalah nama sebuah pohon di Takengon dan Bener Meriah. Biasanya banyak tumbuh liar gitu di hutan atau di pinggir sungai. Tapi ya gitu, sekarang juga udah jarang ketemu sama tanaman yang satu ini. Namanya juga hutannya udah banyak dijadiin kebun yam
Kalau di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rembele lebih dikenal sebagai nama bandar udara di sana. Kabar burungnya pemilihan nama itu karena di lokasi bandar udara yang sekarang itu dulunya banyak terdapat banyak pohon rembele ini.
Rembele selain buahnya yang bisa dicemilin, daunnya juga dulunya banyak digunakan sebagai pembungkus tempe. Dan tentunya punya rasa yang khas pada tempenya karena aroma daunnya. Tapi ya kayak yang saya bilang di atas, karena udah susah ditemuin ya tempe khas ini juga udah susah nemuinnya.
Kebetulan saya baru aja nyobain buah rembele di bulan Agustus kemarin pas maen ke sungai dekat rumahnya bunda di Lampahan. Rasanya manis-manis kecut gitu, mirip cherry liar yang sering jadi makanan tupai liar itu loh.
Jadi di daerah kalian nama tanaman ini apa ya teman-teman?
Tampilkan postingan dengan label Bener Meriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bener Meriah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 November 2015
Rabu, 02 April 2014
Leuser Coffee from Gayo Land
Assalammu'alaikum wr wb
Facebook : Danurfan
Setelah di postingan yang lalu saya bagi-bagi
kopi buat dua orang yang beruntung, nggak ada salahnya Chi kenalin produk salah
seorang sahabat Chi ini ke kalian ya teman-teman.
Leuser Coffee sendiri adalah home industry yang
memproduksi kopi arabika, khususnya kopi Gayo. Pada tau kopi Gayo nggak
teman-teman? Gayo sebenarnya adalah nama suku yang ada di Aceh Tengah, Bener
Meriah dan Gayo Lues. Nah karena di sana adalah daerah dataran tinggi yang
cocok ditanami kopi, sehingga kopi adalah tanaman khas di sana. Nah karena
khasnya itu, jadilah kopi hasil perkebunan di sana lebih dikenal dengan sebutan
kopi Gayo.
Baiklah, kembali lagi ke Leuser Coffee ya.
Kemarin sempat nanya-nanya dikit sih sama Danurfan, si sahabat yang punya usaha
ini. Yuk kita simak Tanya jawab singkatnya yuuuuk…..
“Awalnya bisa membuka
usaha ini, motivasinya apa ya best?”
“Karena suka kopi. Kopi itu seperti istri kedua
sih. Karena kopi itu juga menjadi komoditi terbaik dari Aceh, khususnya Gayo”.
“Usaha ini dimulainya
kapan ya best?”
“Pada awal tahun 2013”
“Sebenarnya apa cerita
di balik nama Leuser Coffee itu best? Dan kenapa memilih nama itu?
"Aku mengambil nama Leuser itu karena kebanggaan
tersendiri dengan kawasan hutan Aceh yang menjadi paru-paru dunia saat ini,
selain basic orang yang suka atas isu konservasi lingkungan hidup jua sih. Dan
penjualan setiap bungkusnya aku hibahkan Rp 1.000 untuk penanaman pohon,
edukasi lingkungan hidup, baik perubahan iklim, global warming dan upaya
penyadartahuan soal konservasi lingkungan hidup tadi”.
“Terus kalo productnya
apa hanya kopi arabika saja?”
“Iya, cuma arabika saja. Dan kopinya berasal
dari Bener Meriah dan Takengon. Dalam pembelian bahan baku aku memberikan
premium fee kepada mereka Rp 3.000 di setiap kg bahan bakunya sebagai apresiasi
kepada petani kopi”.
“Mimpi kamu ke depan
bersama Leuser Coffee apa best?”
“Mimpi ke depan bersama Leuser Coffee adalah
bisa memberikan wujud mimpi untuk membantu kesinambungan dalam melestarikan
alam dan pastinya membuka lapangan kerja juga”.
Nah itu dia wawancara abal-abalnya, hihihi…
Walau singkat dan padat, tapi banyak pelajaran
yang bisa diambil dari jawaban sahabat saya yang satu ini. Semangat dan
kepeduliannya terhadap lingkungan itu yang harus diacungi jempol. Pada
termotivasi nggak nih hey kalian yang juga lagi mencoba membuka usaha sendiri.
Kalo saya mah iya, hehehe…
Oia Danurfan, yang punya sapaan akrab Gem dari
teman-temannya ini adalah sabahat saya sejak SMP. Selain pecinta kopi, dia juga
merupakan pemerhati lingkungan yang juga aktif di Tropical Society dan banyak kegiatan sosial lainnya.
Semoga terinspirasi ya teman.
Sabtu, 08 Maret 2014
Bunga Kopi Bersemi di Takengon dan Bener Meriah
Assalammu'alaikum wr wb
Kali ini cuma sekedar mau pajang foto-foto bunga-bunga kopi. Di Takengon dan Bener Meriah lagi musim bunga nih sekarang untuk tumbuhan kopi. Jadi pemandangan ini nggak asing kalau kalian melewati perkebunan kopi di sini.
Kali ini, bunga kopi yang bermekaran lumayan banyak teman-teman. Kalo katanya papa saya, ini nggak setiap tahun terjadi. Biasanya dua tahun sekali gitu.
Bunga kopi itu aromanya mirip-mirip bunga sedap malam tapi ada aroma manis yang kuat juga. Bunga kopi ini juga agak sensitif gitu teman-teman. Jadi jangan coba-coba disenggol kalo lagi bermekarannya. Soalnya, kalau bunganya rontok ntar nggak bakal jadi buah, kan sayang.
Katanya papa saya lagi-lagi, kalau sekarang bunga kopi bermekaran, kira-kira bulan Juni atau Juli baru akan panen. Wah sepertinya masyarakat di sini akan panen besar nantinya kalau melihat lebatnya bunga-bunga itu sekarang. Mudah-mudahan saat panen besar nanti, harga kopi tidak merosot seperti pertengahan tahun 2013 lalu lagi ya.
Kali ini cuma sekedar mau pajang foto-foto bunga-bunga kopi. Di Takengon dan Bener Meriah lagi musim bunga nih sekarang untuk tumbuhan kopi. Jadi pemandangan ini nggak asing kalau kalian melewati perkebunan kopi di sini.
Kali ini, bunga kopi yang bermekaran lumayan banyak teman-teman. Kalo katanya papa saya, ini nggak setiap tahun terjadi. Biasanya dua tahun sekali gitu.
Bunga kopi itu aromanya mirip-mirip bunga sedap malam tapi ada aroma manis yang kuat juga. Bunga kopi ini juga agak sensitif gitu teman-teman. Jadi jangan coba-coba disenggol kalo lagi bermekarannya. Soalnya, kalau bunganya rontok ntar nggak bakal jadi buah, kan sayang.
Katanya papa saya lagi-lagi, kalau sekarang bunga kopi bermekaran, kira-kira bulan Juni atau Juli baru akan panen. Wah sepertinya masyarakat di sini akan panen besar nantinya kalau melihat lebatnya bunga-bunga itu sekarang. Mudah-mudahan saat panen besar nanti, harga kopi tidak merosot seperti pertengahan tahun 2013 lalu lagi ya.
Sabtu, 01 Maret 2014
Bertemu Bayi Burung Prenjak
Assalammu'alaikum wr wb
Hari minggu yang lalu, saya ikut ke kebun kopi milik orang tua saya. Tujuan kami hari itu adalah mengutip buah kopi sama mama. Sedangkan papa membuang tunas baru atau cabang-cabang pada pokok kopi agar tidak terlalu rindang dan mengganggu pertumbuhan bunga dan buah.
Nah tiba-tiba papa menemukan sarang burung liar di salah satu pokok kopi. Wah saya yang kegirangan melihatnya. Seperti jadi rahasia umum, semua bayi itu selalu terlihat manis dan lucu ya kaaan....
Tidurnya pulas sekali, iiiih gemes....
Menurut papa, itu adalah bayi burung Prenjak. Kesian juga melihatnya, karena dia hanya sendirian di situ. Sang induk mungkin sedang mencari makan. Si bayi burung itu saya lihat juga tertidur pulas. Ah mungkin bayi burung juga sama seperti bayi manusia ya, siklus tidurnya panjang.
Oiya, ada satu hal baru yang saya pelajari hari itu dari papa. Ternyata, kebanyakan burung liar tidak suka anaknya diganggu gugat oleh makhluk lain. Jadi jangan coba untuk memegang anak burung itu ya. Karena jika sudah ada bau manusia pada bayi itu, induknya justru akan menelantarkan anaknya, atau ditinggalkan begitu saja. Wah kesian juga ya, untung saya tidak nekat ngelus-ngelus bayi burung itu tadinya.
Kalau lihat sangkar burung liar seperti itu, rasa takjub atas kebesaranNya selalu berasa. Kalau diperhatikan, gimana coba itu ranting-ranting dan rerumputan kering itu bisa dijalin sedemikian rupa menjadi sebuah sangkar seperti itu? Subhanallah... :)
Sangkarnya terlihat secara utuh
Hmm besok saya akan ikut ke kebun lagi dan akan mencoba untuk menjenguknya lagi. Wah mudah-mudahan dia sehat ya. Atau mungkin sudah belajar terbang aja, hihihi....
Jumat, 16 September 2011
Nonton Bareng Film Dokumenter Radio Rimba Raya di Takengon
Assalammualaikum
Hari Sabtu yang lalu (10/9/2011), aku bareng Mimi kembaranku dapat undangan buat nonton film dokumenter Radio Rimba Raya di Takengon. Awalnya sih masih ragu bisa hadir apa nggak, karena pemutaran filmnya malam hari. Kalo sama papa sih biasa jarang-jarang dapet izin buat keluar malam. Tapi alhamdulillah akhirnya diizinin juga. Awalnya sih acaranya mau diadain hari minggunya, tapi entah kenapa jadi dipercepat. Syukur juga sih, soalnya kalo pemutarannya hari minggu, aku udah pasti nggak bakal bisa nonton karena harus balik ke Medan malemnya.
Film dokumenter ini adalah karya dari putra daerah yang bernama Ikmal Gopi. Yang lebih serunya lagi, pemutarannya filmnya kayak pemutara layar tancep gitu saking ramenya yang nonton. Tenda dan kursi yang disediain panitia ampe nggak cukup gitu. Diriku salah satu penonton yang harus rela berdiri manis di sudut lapangan. Walau hujan sempat turun, antusias penonton tetap tinggi. Buktinya nggak langsung bubar seketika juga pas hujan mengguyur. Beruntung aku ketemu senior sewaktu di SMA yang bawa payung. Jadinya bisa nebeng deh *nasib nggak bawa payung sendiri*. Kalo mau lihat liputan lengkapnya, klik DISINI aja ya :)
Radio ini adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Dataran Tinggi Gayo. Waktu itu berita yang disiarkan itu berkaitan dengan usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jadi lewat radio ini nih disiarkan bahwa Negara Indonesia itu masih ada ke beberapa negara dengan beberapa bahasa juga. Radio ini disembunyikan di Kampung Rimba Raya, kecamatan Pintu Rime Gayo, kabupaten Bener Meriah. Untuk mengenangnya, di sana kita masih bisa mendapati menumennya. Tapi perangkat radionya udah nggak ada, karena disimpan di salah satu museum di Jogjakarta. Gitu deh kira-kira cerita singkatnya. Kalo mau tau lebih jelasnya, klik DISINI aja ya :)
Malem minggu yang seru walau begitu film habis kami langsung pulang, hehe...
Senang melihat antusias warga Takengon yang masih peduli dengan masalah sejarah beginian, apalagi aku lihat banyak anak kecil yang nonton. Moga aja ke depannya makin banyak cineas kreatif yang mengangkat masalah sejarah seperti ini. Temen-temen kalo filmnya udah beredar di pasar (tapi nggak tau juga sih, bakal dijual nggak ya?) harus nonton ya, biar tahu juga kalo sebenarnya pernah ada radio yang nyiarin tentang keberadaan negara kita semasa penjajahan Belanda.
Mari peduli dengan sejarah (>o<)/
Senin, 20 Desember 2010
Ngutip kopi atau piknik tuh?
Tadi pas lihat-lihat file foto di laptop, tiba-tiba pengen berbagi cerita tentang pengalamanku mengutip kopi nih. Terakhir ngutip kopi sih bulan 9 lalu, tepatnya waktu pulang lebaran Idul Fitri kemarin. Kalo ditanya pengalamanku ngutip kopi sih sebenarnya nggak mahir2 amat, amatiran banget malah, hihi... Tapi suasana kalo lagi di kebun itu yang ngangenin.
Kebetulan orang tua aku punya 2 kebun kopi, yah nggak luas juga sih masing-masing kebunnya, tapi cukup lah hasilnya buat bantu-bantu biaya hidup keluarga kami. Nah waktu itu aku bareng mimi kembaranku bantuin orang tua kami di kebun yg nggak begitu jauh dari rumah, sekitar 15 menitan lah jauhnya dari rumah, dan hasilnya juga nggak banyak-banyak amat. Karena tinggal buah-buah sisa, kalo mamaku bilang buah lelesan istilahnya.
Kami di kebunnya sebentar doank sih, habis buahnya nggak banyak. Karena cuma bentar jadinya sempat ngambil beberapa gambar ini pake kamera ponselnya mimi.
Karena papa kerjanya banyak, dari mulai ngambil buah nangka (wah untung pas nangkanya gelinding, yg kena betis aku, coba kepala yg kena, dipastikan pingsan aku, huhu...), ngambil buah pisang buat jualan mama, juga sedikit bersih-bersih jadi kami nggak sempat ambil fotonya. Habis keburu ke bawah duluan, mampir ke tempat kakek yang udah kami anggap saudara karena sering bantuin papa ngutip. Saking bentarnya kami di kebun hari itu, jadi berasa kayak piknik aja, hehehe...
Ini hal-hal yang nggak aku suka kalo ke kebun:
*Ribet harus pake sepatu kalo nggak mau jatuh, padahal nggak punya sepatu boots yg khusus untuk ke kebun, Jadinya keseringan pinjem sepatu olah raga papa yg usah rada usang atau pinjem sepatu kakek kalo ke kebun Lampahan (kebun yang satunya lagi).
*Kalo ke kebun Lampahan tiada hari tanpa digigit tengu. Apa ya dalam bahasa Indonesianya? Pokoknya hewan ini kecil banget. Kayak butiran cabe yg di bumbu mie instan itu loh kecilnya, dan kalo udah kena guateeeeelnya minta ampuuuuun.
*Pulangnya badan pada pegel semua (manjaaaa....)
Yang paling aku suka kalo ke kebun:
*Udaranya seger
*Makan lebih berasa enak kalo rame-rame, walaupun temen nasinya cuma sayur rebus ama ikan asih, tambah sedep lagi kalo makannya pake daun pisang, huaaaa jadi pengen pulaaaang....
*Bisa sekalian refreshing, karena kalo di kebun itu berasa lagi nonton film kartun "Rujak Toon"
itu loh, semua suara serangga ada disana. Tapi tetap waspada, tau-tau ada tawon nyasar lagi ke kita, hehehe
*Suka sama bau-bauannya, mulai dari bau rumput, bau tanah, bau kopi, suka suka sukaaaaa....
*Bisa sekalian olah raga dan melatih keseimbangan tubuh (saking seringnya jatuh terperosok karena nggak meratiin jalan, hehehe)
*Kayak ke pasar buah, jalan dikit petik jambu biji satu, jalan dikit petik jeruk sebiji, jalan dikit petik buah kopi pastinya, hehehe....
Wah ini beneran jadi pengen pulang nih, suasana tanah kelahiranku memang tak tergantikan lah ama sumpeknya kota Medan ini. Temen-temen pada punya pengalaman yg sama atau lebih seru nggak nih dari aku?
Senin, 28 Juni 2010
Pekan
Di Aceh Tengah ada tradisi Pekan. Pekan ini sebenarnya berasal dari tanah minang, yaitu Pakan, pasar yg hanya diadakan seminggu sekali.
Pasti bertanya2 kan, kok bisa tradisi mereka nyampe ke Aceh Tengah? Tau sendiri dong mereka terkenal ama tradisi merantaunya, jadi gk heran lg kalo dunia perdagangan di Aceh Tengah dikuasai oleh mereka.
Nah tradisi pekan ini bergilir di bbrp daerah tiap harinya. Yg aku tau cuma 2 doank, kalo hari minggu di Kota Simpang Balik, dan Minggu di kota Lampahan. Sebnrnya dua kota ini skrg udh trmasuk Kabupaten Bener Meriah. Tapi krn dulunya kami trgabung dlm 1 kabupaten, pekannya ttp digilir sprti sbelumnya walau udh trdiri dr 2 kabupaten.
Walau pun tradisi ini kental dgn tradisi orang minang, tp tradisi ini sudah mendarah daging buat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Oia mngkin bagi sebagian warga Takengon tradisi ini tdk trlalu trkenal juga sih, karena memang pekan diadakan di daerah kecamatan gitu. Jd pekan juga jd ajang brkumpulnya masyarakat bbrpa desa. Pokoknya rame deh.
Pasti bertanya2 kan, kok bisa tradisi mereka nyampe ke Aceh Tengah? Tau sendiri dong mereka terkenal ama tradisi merantaunya, jadi gk heran lg kalo dunia perdagangan di Aceh Tengah dikuasai oleh mereka.
Nah tradisi pekan ini bergilir di bbrp daerah tiap harinya. Yg aku tau cuma 2 doank, kalo hari minggu di Kota Simpang Balik, dan Minggu di kota Lampahan. Sebnrnya dua kota ini skrg udh trmasuk Kabupaten Bener Meriah. Tapi krn dulunya kami trgabung dlm 1 kabupaten, pekannya ttp digilir sprti sbelumnya walau udh trdiri dr 2 kabupaten.
Walau pun tradisi ini kental dgn tradisi orang minang, tp tradisi ini sudah mendarah daging buat warga Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Oia mngkin bagi sebagian warga Takengon tradisi ini tdk trlalu trkenal juga sih, karena memang pekan diadakan di daerah kecamatan gitu. Jd pekan juga jd ajang brkumpulnya masyarakat bbrpa desa. Pokoknya rame deh.
Langganan:
Postingan (Atom)














