Tampilkan postingan dengan label Takengon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takengon. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juni 2017

Perihal Contact Lens

Assalammu'alaikum wr wb

Nggak berasa udah hari ke-5 di bulan Juni yang berarti hari ke-5 project #NulisRandom2017 juga. Hari ini mau cerita tentang contact lens. Ada apa dengan contact lens chi?

Jadi ceritanya mata saya kan minus dan dari dulu tu paling parno sama yang namanya contact lens,  lebih tepatnya nggak berani nyoba untuk pake sih. Tapi karena pas kawinan saya terlalu sayang make up mahal-mahal tapi ntar ketutupan kacamata dan lucu juga kalo nggak pake ntar nggak ngenalin tamu,  jadilah saya memberanikan diri memakai soft lens.

Nah saya kan ada alergi gitu ya,  kena debu dan angin aja mata bisa gatel. Itu juga sih yang buat saya ragu beralih ke soft lens,  tapi ya karena kondisinya mendesak mau nggak mau harus nyoba juga. Dan tibalah hati yang ditunggu-tunggu.

Tau nggak apa yang terjadi akhirnya,  saya butuh waktu sekitar sejam gitu buat pakenya saudara-saudara. Ayo mari kita tertawa berjamaah, hahaha...  Padahal udah dibantuin kakak ipar juga sama sepupu dan ini juga yang membuat make up nya jadi telat. Maafkeun kakak bi,  jadinya kerjanya buru-buru kamunya. Gara-gara soft lens make up nya baru siap beberapa menit sebelum rombongan pak suami dateng. Syukur mesjidnya kepleset nyampe dari rumah jadi masih bisa lari-lari kecil untuk ke mesjid sayanya sambil dengerin repetan para ibu-ibu hehehe...

Matanya sempat merah juga itu,  tapi syukur tetap aman lama kelamaan,  nggak gatel juga.  Besoknya pas di acara resepsi di rumah pak suamo juga aman,  pakenya juga lumayan lama sih,  tapi nggak sampe sejam,  hahaha...  Lumayan lah ya..

Dan well tadi pas mau ambil gambar soft lensnya, saat dibuka taukah kalian apa yang terlihat?



Hahaha ini saya beneran nggak ngerti kalo disimpen airnya itu harus dicheck juga ya,  soft lensnya sampe kering dan tegang gitu,  hahaha... Saya juga lupa itu soft lens nya merk apa, kakak yang beli soalnya.


Pasti kalian pada mikir sayanya norak ya,  ee tapi ya beda orang kan beda ya. Karena sayanya nggam terlalu respect sama benda yang satu ini jadinya ya nggak pusing nyari tau juga tentang perawatannya, akhirnya beginilah kejadiannya,  hehehe...


Kalian punya cerita lucu apa hari ini?



Minggu, 04 Juni 2017

Takoyami Si Takoyaki Ala-ala

Assalammu'alaikum

Kali ini mau sharing info jajanan di Takengon lagi,  mungkin bisa jadi rekomendasi kalian untuk cemilan berbuka puasa.

Jajanan yang satu ini disebutnya Takoyami,  semacam Takoyaki tapi ditambahin mie di adonannya. Sepertinya mie instan sih.



Harganya mulai Rp 10.000 - Rp 25.000 / porsi. Satu porsinya ada tiga tusuk dan setusuknya ada tiga buah,  jadi seporsi kita dapet 9 buah Takoyaminya.

Saosnya juga bisa request mau pake mayonaise atau tidak. Saya kemarin milih yang biasa tanpa toping karena ada riwayat alergi jadilah cari aman aja.

Gerainya terletak di terminal lama,  sebelah kiri. Buat kalian yang di Takengon boleh nih dicoba sesekali untuk menu berbukanya.

Sabtu, 21 Januari 2017

Lidah Digoyang Oleh Sate Padang Pak Amat Takengon

Assalammu'alaikum wr wb

Sate padang adalah salah satu makanan favorit saya.  Dari kecil memang doyannya jajan beginian.  Di Takengon biasanya sate padang dijual dengan menggunakan gerobak. Kalau semasa saya kecil dulu gerobaknya ya memang jalan dari gang ke gang jualannya,  tapi sekarang walau tetap khas dengan gerobaknya tetapi jualannya udah mangkal di satu tempat gitu.



Salah satu pilihan tempat jajan sate padang di Takengon ya sate padang Pak Amat ini. Biasanya ada dua pilihan bumbu sate sih tapi saya lebih milih sate padang ya karena memang doyan.

Gerobak Pak Amat ini biasa mangkal di dekat Indomaret seberang Bank BNI Takengon.  Tepat di seberang gang rumah saya,  jadi ya kemari juga tinggal jalan kaki aja. Yang jual bukan bapak-bapak ya teman-teman,  cuma namanya aja.  Kalau nggak salah itu nama bapaknya si adik yang jualan itu.  Seporsinya tuh Rp 10.000. Kalian boleh milih dengan lontong atau tanpa lontong.  Ya sesuai selera.

Kalau soal rasa yah lumayan lah menurut lidah saya.  Kurang pedes dikit tapi.  Saya tuh sebenarnya paling suka cocolin kuah sate padangnya itu sama kerupuk atau nggak sama keripik pedas.  Keripik pedas tuh sebutan keripik singkong yang yang disambelin itu kalau di Takengon.  Di daerah kalian sebutannya apa ya?  Sewaktu ngekos di medan kami tuh punya langganan abang sate yang lewat depan kos cuma buat beli keripik disiram sama bumbu padangnya.  Hihihi si abangnya baik,  tau aja anak kos mampunya beli bumbunya aja.  Habisnya bisa beli Rp 2.000, nah kalo pake satenya kena Rp 6.000. Tau sendirilah anak kos kan dewanya ngirit ya,  hehehe...


Semoga bisa jadi rekomendasi jajanan buat kalian yang sedang berkunjung ke Takengon ya teman-teman.



Kamis, 22 Desember 2016

Ngopi Cantik di Warung Kopi Kaheng Takengon

Assalammu'alaikum wr wb

Kemarin sore karena terlalu suntuk di rumah saya memutuskan untuk sekedar jalan sore. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari pasar, jadi jalan sedikit sudah sampai di pasar inpres yang terletak tepat di tengah-tengah kota Takengon.

Takengon sudah terkenal dengan kopi Gayonya dan dari hari ke hari warung kopi modern mulai bermunculan di setiap sudut kota ini. Tapi sore ini saya memutuskan untuk mengunjungi warung kopi tradisional yang sudah ada sejak saya kecil. Warung itu terkenal dengan nama Warung Kaheng. Kaheng sendiri diambil dari nama bapak pemilik warung tersebut. 

Warung ini sekarang dikelola oleh anak beliau dan berganti nama menjadi Warung Suka Ramai , walau begitu warungnya tetap ramai hingga sekarang. Kopi yang dijual di sini adalah kopi saring dan kawan-kawannya yang berbahan dasar kopi robusta. Jadi kalian tidak akan menemukan pemandangan mesin-mesin canggih yang menjadi warung kopi kekinian.

Warung ini terletak di Jalan Sengeda, gangnya tepat di seberang Bank BNI Takengon. Sewaktu SMP hampir tiap hari saya membeli kue kacang di warung ini dalam perjalanan ke sekolah. Warung kopi tradisional memang memiliki ciri khas dengan adanya kue-kue tradisional untuk teman menikmati kopi.

Takengon


Jujur ini pertama kalinya saya mencoba kopi saring dan ditambah susu pula. Maklum saya bukan peminum kopi, cuma penyeruput gelas kopi mama saya saja, hehehe... Menurut saya tidak pekat, beda dengan kopi arabika tentunya.

Di sini kita saya masih melihat fungsi meja kopi sesunguhnya yaitu sebagai media komunikasi dan interaksi. Tidak ada yang memegang gadget dan semacamnya. Yang ada obrolan hangat dan diselingi candaan. Pengunjungnya memang dominan laki-laki alias bapak- bapak. Saya saja jadi bahan perhatian ketika duduk di sana dan sendirian pula. Jadilah setelah gelas saya kosong saya pun segera beranjak dari sana. 

Buat kalian yang berkunjung ke Takengon, warung ini menurut saya salah satu tempat wajib untuk kalian datangi, apalagi bagi kalian para pecinta kopi. 




Selasa, 25 Oktober 2016

Sore Berangin di Bolang Baling Pendere



Takengon
Bolang baling Pendere


Assalammu'alaikum wr wb

Sore itu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2016 saya dan sepupu saya Uli janjian untuk ke salah satu tempat rekreasi di Takengon. Bolang baling ini letaknya di desa Pendere.

Untuk mencapai ke sana, dari kota Takengon kalian bisa mengambil arah perjalanan ke toa. Setelah Tan Saril kalian akan menemukan sebuah gang ke arah kiri. Tenang aja ada penandanya kok, tapi saya nggak sempat ambil fotonya. Jalannya menanjak dan kurang bagus, juga licin kalau hari hujan jadi hati-hati buat kalian yang memilih ke sana di saat musim hujan seperti sekarang ini.


Bolang baling ini tidak terlalu besar, hanya memiliki 16 bilik. Waktu itu saya dan sepupu saya memilih ke sana pada sore hari. Hari agak mendung sebenarnya, malah sempat hujan juga saat perjalanan kami ke sana.

Saya dan sepupu saya, Uli



Tiket untuk menaiki bolang baling ini adalah Rp 10.000 dan walau yang sewa cuma satu orang juga bakal diputerin bolang balingnya.

Tempatnya sebenarnya asri dan lumayan luas. Sudah terdapat toilet dan taman bermain kecil untuk anak-anak. Di sekeliing kompleknya juga terdapat kebun kopi milik warga. Tetapi kita tidak dapat melihat pemandangan Danau Lut Tawar dari sini karena ditutupi oleh bukit.

Sayang sekali tempat ini tidak terlalu ramai, mungkin karena lokasinya kurang strategis ya, saya juga kurang tau kenapa. Atau mungkin pengelolanya perlu buat sesuatu yang beda biar menarik banyak pengunjung ke sana.

Takengon
Lihat, cakep kan pemandangannya


Well, saya agak takut juga waktu menaiki bolang balingnya, yah memang dasarnya saya juga penakut orangnya, hehehe. Tapi setelah dicoba tidak menakutkan kok, karena muternya juga pelan. Yah mungkin kalau ke sana lagi asiknya rame-rame kali ya.

Lihatlah wajah keyakutan saya, hahaha...


Yah semoga bisa menjadi referensi buat kalian sedang berkunjung ke Takengon ya teman. Oia masih ada yang tanya Takengon itu dimana? Takengon itu ibu kotanya Kabupaten Aceh Tengah ya teman-teman.

Maaf fotonya hanya sedikit, file fotonya nyelip entah di memori yang mana (bilang aja males nyari dan ngedit chi, hehehe).


Kamis, 25 Agustus 2016

Semarak Karnaval Kemerdekaan RI di Takengon

Assalammu'alaikum wr wb

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 71 ♡




Kebetulan di lingkungan rumah saya tahun ini tidak ada perayaan khusus dan kebetulan saya juga lagi terserang flu, jadilah tidak bisa menonton perayaan di desa sebelah.

Tapi walau tidak ikut perlombaan dan semacamnya, hari sabtu yang lalu yaitu 15 Agustus 2016 saya sempat menyaksikan karnaval kemerdekaan yang memang rutin tiap tahun diadakan.

Cuacanya mendung hari itu jadi buat adik-adik peserta karnaval sedikit diuntungkan dengan cuaca seperti itu, tetapi angin bertiup lumayan kencang. Saya yang nunggu cantik di pinggir jalan tetap merasa kedinginan walau sudah berjaket tebal, hahaha....

Saya sedikit ketinggalan menyaksikannya, padahal ke jalan Sengeda tempat saya biasa menyaksikan karnavalnya tidak terlalu jauh jadinya cuma sedikit mendapat foto adik-adik dari TK dan SD, ini diantaranya:

Adik-adik dari SD saya dulu

Ara si pipi bakpau
Tetangga sebelah rumah



Dan ini selebihnya :)






Kerawang Gayo adalah pakaian adat suku Gayo
Dulunya hanya menggunakan warna hitam,
tetapi sekarang sudah dikreasikan dalam banyak warna, salah satunya berwarna putih seperti di foto.

Adik-adiknya lagi serius berdidong
Didong adalah kesenian khas suku Gayo



Saya lebih suka mengambil gambar barisan marcing band karena barisannya rapi, sedangkan barisan peserta lain terlalu rapat jadi kalau ada kostum yang lucu jadi susah ambil gambarnya. Akhirnya peserta terakhir lewat sekitar jam 11.30, nggak berasa pegel juga berdiri dari jam 9 pagi. Mudah-mudahan tahun depan pesertanya lebih kreatif lagi dan barisannya agak dijarangin gitu biar kelihatan semua.



Kamis, 10 September 2015

Pacu Kude, Tradisi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di Takengon

Seperti tahun-tahun sebelumnya Pacuan Kuda atau lebih dikenal dengan sebutan 'Pacu Kude' oleh masyarakat Gayo menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.



Biasanya Pacuan Kuda dilaksanakan selama seminggu penuh dan pada hari minggu merupakan puncak atau finalnya, jadi pada hari minggu hampir semua masyarakat Takengon atau dari beberapa kabupaten sekitar akan berdatangan memenuhi Lapangan Pacuan Kuda HM Hasan Gayo Belang Bebangka di Pegasing.

Untuk mencapai Lapangan jika kalian tidak memiliki kendaraan sebenarmya tidak sulit. Karena biasanya jika musim pacuan kuda seperti ini maka angkot atau yang lebih dikenal dengan sebutan labi-labi akan langsung masuk ke komplek lapangannya, jadi kita juga nggak perlu jalan jauh dari jalan utama menuju ke lapangannya. Untuk tarif normal penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000, tetapi kadang suka dinaikin juga ongkosnya jadi Rp 7.000. Jadi jangan lupa bertanya dulu sebelum membayar ya. Dari pusat kota kalian tinggal mencari labi-labi yang bertuliskan TOA aja pasti langsung nyampe kok.

Pada hari minggu (23/8/2015) saya menuju ke Lapangan HM Hasan Gayo dengan menumpang labi-labi. Berangkat lebih pagi dapat menghindari kemacetan juga buat kita. Ya walau jarak dari pusat kota Takengon tidak terlalu jauh ke Lapangannya, tapi ya kalau sudah terjebak macet kan nggak asik juga.

Pacuan kuda ini biasanya dimulai sekitar jam 10 - 11 pagi. Nah datang lebih pagi juga memudahkan kita untuk mencari lokasi menonton yang bagus dan tidak berebutan dengan penonton yang lain. Ya tapi ingat-ingat jangan melewati pagar pembatas ya saat menonton. Karena kita kan nggak bisa menduga kudanya bisa berlari ke arah mana aja, ya demi keamanan tentunya.


Suasana tribunnya
dilihat dari kejauhan,
padat ya...

Suasana di tengah
lapangan.


Pacuan kuda di Takengon ini masih bersifat tradisional. Jokinya biasanya berkisar antara anak-anak dan remaja, tetapi belum memiliki perlengkapan keamanan bagi jokinya.



Yang jualan juga rame, mulai dari yang jualan makanan, peralatan dapur, buah-buahan, pakaian baru maupun bekas, sampai yang jualan masker juga ada.

Abang-abang ini minta difoto
dikirain sayanya wartawan sama
mereka, hahaha...


Jemblang atau Jambu Keling
jajanan ini juga merupakan
jajanan khas karena
kebetulan masa panennya
jatuh di bulan
Agustus.


Burung pipit ini
banuak dibeli oleh anak-anak.
Tapi kesian burungnya dicat gitu,
tadinya saya kira
itu warna alaminya :(

Lagi-lagi sayanya
dikirain wartawan,
abang-abang supir labi-labi
ini minta difotoin juga :D

Tradisi pacuan kuda ini sudah berlangsung sejak abad ke-19. Dulunya dilakukan di pinggir Danau Lut Tawar sebelah timur sebelum pindah ke Lapangan Musara Alun di daerah kota sampai akhirnya dipindahkan lagi ke Lapangan HM Hasan Gayo ini.

Buat kalian yang memiliki waktu luang di bulan Agustus, event ini salah satu event yang sayang untuk dilewatkan teman-teman.



Rabu, 19 Agustus 2015

Semarak HUT RI ke 70 di Tetunyung, Takengon


Assalammu'alaikum wr wb

Dirgahayu Indonesiaku tercinta ♥

Sama seperti di setiap sudut Indonesia, di lingkungan saya tinggal juga diselenggarakan perlombaan untuk menyemarakkan ulang tahun Republik Indonesia. Yuk kita lihat beberapa foto suasana 17-an kemarin di dekat rumah saya.



Karena sulitnya mendapatkan jeruk bali di Takengon, sepertinya panitia 17-annya berinisiatif menggantinya dengan pepaya yang hanya dilumuri tepung saja di permainan mengumpulkan koin.



Kelompok anak perempuan dalam lomba membawa kelereng terlihat lebih sabar dibandingkan dengan kelompok laki-laki. Ini terlihat dari tidak seringnya mereka menjatuhkan kelereng yang mereka bawa dan bisa langsung ke garis finish. Tidak seperti kelompok laki-laki yang sering menjatuhkan kelereng mereka sehingga harus mengulang dari garis start, hehehe...



Dalam permainan lari goni dalam sebutan kami atau balap karung dalam sebutan umum, adik-adiknya semangat sekali bahkan ada yang keserimpet, hehehe....






Permainan panjat pinangnya diselenggarakan selesai waktu Ashar. Walau hari hujan, pesertanya tetap antusias. Oia mungkin kalian heran ya dimana hadiahnya? Hadiahnya hanya ditulis pada kertas-kertas saja, jadi tidak langsung digantung seperti biasanya. Kurang meriah sih memang, tapi ya walau begitu tetap saja susah untuk mengambilnya, hehehe...


Pengumuman pemenangnya dilakukan malam hari jadi sayanya nggak ikutan nonton lagi.


Oia untuk kalian yang sedang di Takengon jangan lewatin event Pacuan Kuda selama seminggu ini ya.

Takengon
Pacuan Kuda




Sabtu, 13 September 2014

Mie Lidi alias Mie gomak

Assalammu'alaikum wr wb

Pada bingung nggak teman-teman kenapa nama mie ini disebut Mie Lidi. Hihihi saya juga kurang tau kenapa disebutnya begitu, setau saya ya mungkin karena bentuknya yang kaya lidi itu kali ya :p

Kalau di Sumatera Utara mie ini dikenal dengan sebutan Mie Gomak nih.

Jenis Mie


Mie ini cara pengolahannya rada ribet sebenarnya. Karena harus direbus dulu kemudian dicuci dan ditiriskan baru bisa kita olah sesuai selera. Bisa ditumis, direbus atau disajikan bersama lontong.

Kebetulan di rumah Takengon di depan rumah ada warung kecil milik mama yang menu utamanya ya Lontong Mie ini.

jenis mi


Saya kurang tahu juga sebenarnya mie lidi ini adanya dimana aja. Tapi pernah ada teman saya yang berasal dari Jakarta yang memang hobinya itu masak, baru mengenal mie ini ketika berkunjung ke Medan.

Untuk merknya juga beragam, tapi yang paling terkenal itu merk 'GL'. Tapi di Aceh ada merk baru seperti yang di foto yang di atas.

Waduh jadi pengen jajan mie nih. Buat yang lagi ke Aceh dan Sumatera Utara jangan lupa jajan mie yang satu ini ya. Terserah mau nyebutnya apa, sama aja Mie Lidi alias Mie Gomak  :D


Jumat, 08 Agustus 2014

Melepas Rindu Dengan Mie Ayam

Assalammu'alaikum wr wb

Hampir sebulanan nggak jajan mie ayam, lidah ini berasa ada yang kurang. Jadilah beberapa hari yang lalu, saya dan Mimi kembaran saya hunting tempat jajanan mie ayam yang belum pernah kami kunjungi di Takengon.

mie takengon


Atas rekomendasi sepupu, kami pun penasaran nyobain mie ayam di warung bakso langganannya. Warung bakso Mitra yang juga menjual mie ayam yang kami datengin kemarin sore itu terletak di Jl. Lebe Kader, di dekat SMA Neg.1 Takengon.

bakso takengon


Tempatnya lumayan cozy dan cukup bersih. Kalo soal rasa kalo menurut saya yah kurang nendang semurnya itu. Kalo kuah kaldunya yah lumayanlah.

takengon


Soal harga untuk ukuran Takengon ya standarlah, semangkuknya Rp 10.000.

Nah buat kalian yang lagi berkunjung ke Takengon, warung ini bisa jadi salah satu alternatif buat jajan nih. Lokasinya juga mudah di dapat, tepat di jalan utama kota.Akhirnya kesampaian juga melepas rindu dengan mie ayam :)


Kamis, 07 Agustus 2014

♥ Minal Adzin Walfaidzin ♥

Assalammu'alaikum wr wb

Wah nggak berasa Ramadhan udah berlalu teman, sedih ya. Mudah-mudahan tahun depan kita masih bisa ketemu Ramadhan lagi, aamiin...



Tahun ini bisa dibilang lebaran terame di rumah. Soalnya keluarga besar dari bu'de (kakaknya papa) pada pulang ke Takengon semua. Kumpul semua dari sepupu ampe ponakan. Seru...



Sayang karena kekurangan kendaraan jadinya sayanya kebagian nungguin rumah, nggak ikut ngunjung ke rumah saudara-saudara.



Karena itu saking sibuknya, ini update blognya kelamaan.



Teman-teman semua, di moment yang udah telat ini saya mohon maaf lahir dan batin ya jikalau ada salah kata, komentar dan perbuatan sama kalian semua. Mudah-mudahan ke depannya kita semua bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi ya teman, aamiin :)




Rabu, 16 Juli 2014

Ramadhan di Takengon, Tidak Lengkap Rasanya Tanpa Cecah Bajik

Assalammu'alaikum wr wb

Huaaa udah lama nggak tersentuh blognyaaaa....
*pukpuk blog


Kali ini chi mau berbagi cerita tentang salah satu makanan khas di Takengon, Aceh Tengah yang biasa dijadikan sebagai menu berbuka. Makanan itu adalah cecah bajik. Kalau biasanya yang dikenal dengan kata cecah itu adalah ragam jenis sambel-sambelan, nah cecah yang satu ini beda. Cecah bajik ini lebih mirip dengan rujak sebenarnya.

jenis cecah


Bajik sendiri artinya adalah buah nangka yang masih muda (sekali) yang biasanya masih sebesar jempol kita dan cecah bajik sendiri ya memang berbahan dasar buah nangka muda. Lalu ditambah dengan pisang muda, jambu kelutuk, terong belanda, nanas, daun pepaya, gula aren dan garam. Cara membuat cecah bajik ada yang diulek atau ditumbuk dengan menggunakan alu.

Rasanya campur-campur ya, ada kelat, manis dan asam. Hehehe tapi beberapa hari yang lalu sempat bikin di rumah sama mama, bahannya kurang alias apa adanya, walhasil warnanya agak kelam ya. Soalnya nggak ada nanasnya. Biasanya kalau ada nanasnya jadi agak cerah warnanya :)

bahan-bahan cecah


Cecah bajik sendiri katanya bagus untuk pencernaan loh.

Nah buat kalian yang mau nyoba bikin bahannya nggak sulit dicari kan, selamat mencoba ya. Pokoknya Ramadhan di Takengon, Tidak Lengkap Rasanya Tanpa Cecah Bajik :)




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...