Jumat, 01 Januari 2016

Di Penghujung Malam Hari Pertama

Di penghujung malam.
Hari pertama.
Terdengar suara tangisan anak
kecil di luar rumah.
Pulang terlalu larut
dan tak dibukakan pintu
oleh ibunya.

Di penghujung malam.
Hari pertama.
Ditemani suara sisa-sisa
keriuhan penyambutan
hari pertama ini.
Berisik?
Iya
Tapi ya itulah tradisi
kebarat-baratan
yang seakan wajar bagi
tradisi ketimuran.


Di penghujung malam.
Hari Pertama.
Mendapat kabar
aku dinobatkan menjadi
pemeran utama.

Di penghujung malam.
Hari pertama.
Semoga hari-hari selanjutnya
skenarionya baik-baik
saja.



Selasa, 24 November 2015

Gathering Nasional Sahabat Indonesia Berbagi ke 3 Hari Pertama

Alhamdulillah Gathering Nasional Sahabat Indonesia Berbagi ke 3 2015 telah terselenggara di Medan pada tanggal 14-15 November 2015 yang lalu.



Gathering nasional ini merupakan program periodik dari komunitas Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) yang bertujuan untuk lebih memperkenalkan SIGI di kota Medan dan tentu saja untuk mempererat silaturahmi antar anggota SIGI (SIGIers) di seluruh Indonesia. Kebetulan pada kegiatan ini ada 5 SIGIers Jabodetabek yang ikut serta juga, ada kak Fatma, kak Ika, bang Ain, bang Sandi dan bang Fahmi.

Dengan mengusung tema "Medan Heritage & Cullinary Adventure" kegiatan ini dibagi menjadi 2 hari pelaksanaan. Hari pertama fokus pada Medan Cullinary Adventure dan hari kedua fokus pada Heritage Adventure.

Hari pertama dimulai dengan berkumpul terlebih dahulu di Lapangan Merdeka Medan, baik SIGIers maupun peserta umum. Setelah dibagi menjadi 5 kelompok maka dimulailah perjuangan kami untuk misi hari ini.

Nah menurut kalian misinya apa coba?
Sesuai temanya "Medan Cullinary adventure" maka tugas kami adalah memasak makanan khas Sumatera Utara. Dengan dikantongi nama makanan dan uang belanja sebesar Rp 100.000 dan Rp 50.000 untuk yang mendapat tugas memasak kue.

Dimulai dengan berpencar ke pasar tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan "pajak" di Medan untuk berbelanja bahan-bahan untuk memasak yang kemudian dilanjutkan ke rumah salah satu penanggung jawab di masing-masing kelompok.

Saya masuk ke kelompok 5 yang bertugas memasak kue Malaka dan bakwan. Dari Lapangan Merdeka kami menuju ke Pajak Sei Kambing untuk berbelanja dan dilanjutkan menuju ke rumah Dewi, salah satu anggota kelompok kami. Kami kelompok 5 terdiri dari 6 orang, terdiri dari saya sendiri, dewi, kak Fatma, Uci, Yara dan Indhy.

Medan Cullinary Adventure
Pilih-pilih wortel
untuk bakwannya.

Becak motor Medan
Naik becak motor
menuju rumah Dewi
bareng kak Fatma ♡

Medan Cullinary Adventure
Mari memasaaaak
Bagi-bagi tugas kitanya :D

Medan Cullinary Adventure
Yaaaay kue malaka dan
bakwannya sudah siap dibawa
ke meeting point :9


Sesuai peraturannya, jam 4 sore kami semua harus berjumpa di rumah SIGIers yg menjadi titik pertemuan akhir kami yaitu di rumah kak Dian di daerah Denai. Di sinilah nantinya semua makanan terkumpul dan saatnya makaaaaan ♥

Tapi ya karena disertai jajan-jajan kecil setelah selesai masak jadinya kami telat sampai di sana. Oia selain itu juga Dewi sempat mengalami insiden kecil, syukur lukanya hanya di kaki jadi masih bisa melanjutkan perjalanan ke rumah kak Dian.

Karena tidak ada helm, akhirnya saya dan kak Fatma memilih naik angkot. Jadilah sayanya menjelaskan sedikit-sedikit tentang Medan sepanjang perjalanan. Kebetulan kak Fatma adalah SIGIers Jakarta. Hihi semoga nggak kapok saya ngajak ngangkot di Medan ya kak :p

Ini keseruan teman-teman kelompok lain.






Sesampainya di rumah kak Dian sudah menjelang magrib dan tentunya perut juga sudah sangat lapar, hahaha. Sampai lupa ambil gambar makanan-makanannya.

SIGI Medan
Saatnya makaaaaan 


Nah tunggu cerita keseruan kami di hari kedua ya teman-teman.


Salam SIGI Ceria ♥



Selasa, 10 November 2015

Si Imut Buah Rembele

Assalammu'alaikum wr wb

Pada tau buah rembele nggak teman-teman?
Eh tapi saya juga nggak tau nama umumnya apa dalam bahasa Indonesia, hehehe.



Rembele adalah nama sebuah pohon di Takengon dan Bener Meriah. Biasanya banyak tumbuh liar gitu di hutan atau di pinggir sungai. Tapi ya gitu, sekarang juga udah jarang ketemu sama tanaman yang satu ini. Namanya juga hutannya udah banyak dijadiin kebun yam

Kalau di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Rembele lebih dikenal sebagai nama bandar udara di sana. Kabar burungnya pemilihan nama itu karena di lokasi bandar udara yang sekarang itu dulunya banyak terdapat banyak pohon rembele ini.

Rembele selain buahnya yang bisa dicemilin, daunnya juga dulunya banyak digunakan sebagai pembungkus tempe. Dan tentunya punya rasa yang khas pada tempenya karena aroma daunnya. Tapi ya kayak yang saya bilang di atas, karena udah susah ditemuin ya tempe khas ini juga udah susah nemuinnya.

Kebetulan saya baru aja nyobain buah rembele di bulan Agustus kemarin pas maen ke sungai dekat rumahnya bunda di Lampahan. Rasanya manis-manis kecut gitu, mirip cherry liar yang sering jadi makanan tupai liar itu loh.


Jadi di daerah kalian nama tanaman ini apa ya teman-teman?





Rabu, 28 Oktober 2015

Radja Pizza, Salah Satu Alternatif Jajanan di Diski

Assalammu'alaikum wr wb

Kali ini saya akan berbagi salah satu jajanan alternatif  di kota Diski (km 15). Hehehe iya, sementara ini saya tinggal di Diski, sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Medan.

Sebenarnya di sini banyak sekali jajanan yang bikin laper mata, tapi saya tertarik dengan yang satu ini, Radja Pizza.

diski

Gerainya terletak di Jl. Sei Mencirim tepat di depan kantor Kodim, tidak jauh dari simpang 4 Diski. Biasanya bukanya hanya malam hari saja.


sumut
Ini dia gerainya :)


Harganya berkisar dari Rp 11.000 - Rp 16.000, sesuai dengan toping yang kita pesan. Saya mencoba pizza kombinasi, jadi campuran dari semua jenis topingnya. Ya harga memang biasanya sesuai dengan kualitas ya. Jadi jangan bandingkan jajanan ini dengan merk pizza yang sudah ternama itu, hehehe..

Diski
Pizza Kombinasi
hihihi banyakan wortelnya
ketimbang toping lainnya :p



Hasil tanya-tanya sama abang penjualnya, katanya sih mereka cabang dari gerao di Semarang dan sementara masih ada 3 gerai di sini. Hihihi saya lupa dimana-mana saja gerainya, soalnya daerahnya kurang familiar di telinga.

Semoga bisa jadi pilihan alternatif jajanan buat kalian yang di Diski ya :)



Selasa, 20 Oktober 2015

Ramaikan Gathering Nasional SIGI di Medan Yuk!




Gathering Nasional SIGI (Sahabat Indonesia Berbagi) tahun ini diselenggarakan kembali, tepatnya diselenggarakan di kota Medan.

Gathering Nasional SIGI ini akan diadakan pada tanggal 14 dan 15 November 2015.


Dengan mengambil tema "Medan Heritage dan Culinary Adventure" para peserta nantinya akan diajak untuk mengenali kota Medan lewat makanan khas dan tempat-tempat bersejarah di kota Medan tentunya. Jadi tunggu apa lagi? Yuk ikutan berpartisipasi teman-teman :)

Untuk yang hobi masak, kegiatan ini cocok sekali untuk kalian. Karena di hari pertama nantinya kita akan belanja, memasak dan tentunya makan bersama hasil masakan kita, kurang seru apa coba?

Nah di hari kedua kita akan berbagi keceriaan bersama adik-adik asuh SIGI Medan dengan memperkenalkan budaya dan tempat bersejarah di kota Medan.

Kegiatan ini terbuka untuk umum loh. Jadi siapapun dan darimana pun boleh gabung di kegiatan ini :)


Untuk Donasi dan Pendaftaran:
Paket A: Rp 100.000,- (Baju + Donasi)
Paket B: Rp 100.000,- (Donasi + Trip)
Paket C: Rp 150.000,- (Donasi + Baju + Trip)

Pendaftaran atau pemesanan silahkan hubungi:
Rani Ardilla Barus (0853 6113 7926)
Transfer ke:
Bank BRI
A.n : Rani Ardilla Barus
A.c : 1091.01.000936.53.0

Format Pemesanan:
Nama/Paket/Ukuran baju/lengan/jumlah/alamat/no.hp

NB: Ukuran baju (S, M, L, XL, XXL) dan lengan panjang + Rp 10.000,-
Belum termasuk ongkos kirim ya.

Batas akhir pendaftaran dan pemesanan 31 Oktober 2015

Supported by Medan Heritage


Ditunggu partisipasinya teman-teman.

Salam SIGI ceria (/ ^,^)/

Berbagi tak akan membuatmu rugi

Kamis, 10 September 2015

Pacu Kude, Tradisi Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia di Takengon

Seperti tahun-tahun sebelumnya Pacuan Kuda atau lebih dikenal dengan sebutan 'Pacu Kude' oleh masyarakat Gayo menjadi tradisi tahunan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.



Biasanya Pacuan Kuda dilaksanakan selama seminggu penuh dan pada hari minggu merupakan puncak atau finalnya, jadi pada hari minggu hampir semua masyarakat Takengon atau dari beberapa kabupaten sekitar akan berdatangan memenuhi Lapangan Pacuan Kuda HM Hasan Gayo Belang Bebangka di Pegasing.

Untuk mencapai Lapangan jika kalian tidak memiliki kendaraan sebenarmya tidak sulit. Karena biasanya jika musim pacuan kuda seperti ini maka angkot atau yang lebih dikenal dengan sebutan labi-labi akan langsung masuk ke komplek lapangannya, jadi kita juga nggak perlu jalan jauh dari jalan utama menuju ke lapangannya. Untuk tarif normal penumpang hanya perlu membayar Rp 5.000, tetapi kadang suka dinaikin juga ongkosnya jadi Rp 7.000. Jadi jangan lupa bertanya dulu sebelum membayar ya. Dari pusat kota kalian tinggal mencari labi-labi yang bertuliskan TOA aja pasti langsung nyampe kok.

Pada hari minggu (23/8/2015) saya menuju ke Lapangan HM Hasan Gayo dengan menumpang labi-labi. Berangkat lebih pagi dapat menghindari kemacetan juga buat kita. Ya walau jarak dari pusat kota Takengon tidak terlalu jauh ke Lapangannya, tapi ya kalau sudah terjebak macet kan nggak asik juga.

Pacuan kuda ini biasanya dimulai sekitar jam 10 - 11 pagi. Nah datang lebih pagi juga memudahkan kita untuk mencari lokasi menonton yang bagus dan tidak berebutan dengan penonton yang lain. Ya tapi ingat-ingat jangan melewati pagar pembatas ya saat menonton. Karena kita kan nggak bisa menduga kudanya bisa berlari ke arah mana aja, ya demi keamanan tentunya.


Suasana tribunnya
dilihat dari kejauhan,
padat ya...

Suasana di tengah
lapangan.


Pacuan kuda di Takengon ini masih bersifat tradisional. Jokinya biasanya berkisar antara anak-anak dan remaja, tetapi belum memiliki perlengkapan keamanan bagi jokinya.



Yang jualan juga rame, mulai dari yang jualan makanan, peralatan dapur, buah-buahan, pakaian baru maupun bekas, sampai yang jualan masker juga ada.

Abang-abang ini minta difoto
dikirain sayanya wartawan sama
mereka, hahaha...


Jemblang atau Jambu Keling
jajanan ini juga merupakan
jajanan khas karena
kebetulan masa panennya
jatuh di bulan
Agustus.


Burung pipit ini
banuak dibeli oleh anak-anak.
Tapi kesian burungnya dicat gitu,
tadinya saya kira
itu warna alaminya :(

Lagi-lagi sayanya
dikirain wartawan,
abang-abang supir labi-labi
ini minta difotoin juga :D

Tradisi pacuan kuda ini sudah berlangsung sejak abad ke-19. Dulunya dilakukan di pinggir Danau Lut Tawar sebelah timur sebelum pindah ke Lapangan Musara Alun di daerah kota sampai akhirnya dipindahkan lagi ke Lapangan HM Hasan Gayo ini.

Buat kalian yang memiliki waktu luang di bulan Agustus, event ini salah satu event yang sayang untuk dilewatkan teman-teman.



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...