Kamis, 24 April 2014

LiterARTcyNight Bersama Goodreads Medan Membaca ♥

Assalammu'alaikum wr wb

Kemarin, dalam memperingati Book World Day teman-teman dari Goodreads Medan bersama dengan 1000 Foundation dan Malam Puisi Medan mengadakan LiterARTcyNight.




LiterARTcyNight sendiri bertujuan mengumpulkan buku anak-anak yang setelah semua terkumpul akan didistribusikan oleh teman-teman 1000 Foundation. Sayang saya lupa nanya ke mana atau siapa buku-buku itu akan didistribusikan.

Acara yang dijadwalkan mulai pada jam 6 sore ini ternyata ngaret sampai jam 8-an. Acara ini berlokasi di Teras Benji di Jalan Sendok no.11, Medan.

Begitu sampai di sana saya suka sama konsepnya yang penuh dengan barang seni itu. Mungkin itu juga kali ya yang menjadi salah satu alasan mengapa tempat ini dijadikan lokasi acara LiterARTcyNight ini. Hahaha sok tahu sayanya :p




Hal-hal yang menarik perhatian 
saya di Teras Benji


Setelah lama nggak ngumpul-ngumpul dengan teman-teman dari Goodreads, saya banyak ketinggalan informasi. Yang hadir juga wajah-wajah baru semua. Koordinatornya juga udah digantikan oleh Bang Hardy sekarang. Wah salam kenal sekali lagi ya buat geng cantik Goodreads semalem. Oiya plus 2 jagoan juga, Savindo dan satu lagi yang belum sempat kenalan tadi malem karena keburu pulang :p



Geng cantik Goodreads Medan

Bukan Indonesia namanya kalo nggak ngaret ya teman-teman. Sedikit kesal memang karena acaranya ngaretnya kelamaan. Pasalnya saya angkotera dan perempuan pula, jadi jam 9 udah harus pulang. Jadilah saya cuma ngikutin acara sampai bagian teman-teman Goodreads aja. 

Dimulai dengan pembukaan dari MC manis, @pagigenic. Dilanjutin sama kak Lely dari Goodreads di sesi kata sambutan. Kemudian ada pemutaran film pendek dari Komunitas Film Sumatera Utara (Kofi Sumut).



Saat pemutaran "Book"


Film pertama yang diputar berjudul "Book" yang berkisah tentang sebuah buku di sebuah perpustakaan. Mulai dari dia masih baru, kemudian berguna, ternoda dan berakhir dengan diabaikan begitu saja. Film yang kedua adalah sebuah film dokumenter yang berjudul "Kapal Baca Alusi Toba", yang berkisah tentang usaha seorang pemuda yang pulang ke kampungnya di daerah Pulau Samosir yang bernama desa Lottung dan kemudian tergerak untuk membuat gerakan membaca untuk anak-anak di seputaran Pulau Samosir. Jadi gerakannya berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya dengan menggunakan sebuah kapal. Wah salut sekali dengan mereka yang rela langsung terjun untuk meningkatkan minat baca pada anak-anak ini.

Setelah pemutaran dua film itu, giliran Santi dari Goodreads yang bagi-bagi buku gratis. Tantangannya ada yang dikasih tugas ngereview dan berpuisi.


Para pemenang giveaway 

Nah setelah itu sayanya cabut pulang. Maklum angkoters,  daripada kemaleman.


Oiya lupa, ada Eng Ing Eng Band juga yang nampil. Banyak komunitas juga yang dateng, antara lain KSI (Klub Sastra) Medan, FLP Medan, Klub Buku Medan, Kampung Dongeng, KofiSumut, RUFI Sumut, Blogger Medan, dan beberapa komunitas lainnya.


Senang bisa berpartisipasi di acara ini dan semoga bukunya bermanfaat, aamiin...





Selamat Hari Buku sekali lagi ya teman-teman :D







Sabtu, 19 April 2014

Catatan Kecil Tentang Pabrik Gula Mini di Aceh Tengah

Assalammu'alaikum wr wb

Tadi bongkar-bongkar notes eh malah nemu catatan kecil obrolan saya dengan papa tentang Pabrik Gula Mini (PGM) yang pernah ada di Aceh Tengah. Pabrik ini kalo katanya papa adalah pabrik gula mini pertama di Indonesia, tetapi ternyata setelah saya googling ada satu lagi si Sumatera Barat :)

Kata papa (lagi) pabrik ini didirikan di kampung Buter, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 1978. Tapi lagi-lagi setelah googling, catatan sejarah mengatakan pada tanggal 17 Oktober 1979. Hmm mungkin papa ngitungnya sejak pabrik ini dibangun kali ya, hehehe...

Tapi sayang, pabrik ini gagal dalam pengoperasiannya. Di daerah Blang Mancung memang notabene adalah daerah perkebunan tebu, jadi masalahnya bukan terletak pada sumber daya alamnya. Masalahnya ada pada sumber daya manusia, alias tenaga kerjanya. Pabrik ini mengadopsi cara kerja Hindia, yaitu sistem padat karya. Jadi lebih mengandalkan
tenaga kerja manusia, bukannya mesin.

Nah di daerah ini dulunya tidak terlalu padat penduduk, tentu saja ini jadi masalah. Di sisi lain, sistem kerja padat karya sudah jelas memerlukan tenaga kerja yang tidak sedikit. Bayangkan, semuanya serba manual, dari mulai memanen tebunya, memeras air tebu, juga memasak air tebunya pun masih memakai wajan besar. Waktu itu, pemda juga sempat menyewa tenaga kerja dari sumatera utara, tetapi pengeluaran juga menjadi semakin bertambah. Jadilah pabrik ini pun ditutup pada akhirnya. Sayang papa lupa cerita itu terjadi pada tahun berapa.

Sekarang, pabrik ini hanya tinggal nama saja. Satu besi penopangnya pun sudah tidak ada lagi. Kata papa banyak yang menjarahnya saat masa-masa konflik di Aceh lalu. Sayang sekali ya :(

Oiya, desa Buter itu berada dekat dengan pusat gempa 6,2 SR yang terjadi 6 Juli 2013 lalu di Aceh Tengah. Di sana masih banyak terdapat perkebunan tebu juga sampai sekarang.

Jujur saya sendiri belum pernah ke lokasinya. Saat musibah gempa pun kami memilih untuk tidak hanya ke sana untuk sekedar menonton para korban di sana. Karena saat itu kami sekeluarga sedang berduka karena beberapa hari sebelumnya kakek saya meninggal dunia.


Yah kalau bukan karena kejadian gempa itu, papa saya juga mungkin tidak akan menceritakan setitik sejarah ini ke saya.

Dari cerita ini jadi makin sadar kalau masih terlalu banyak yang belum saya ketahui tentang tanah kelahiran saya, Aceh Tengah :(



Rabu, 16 April 2014

April Giveaway from Hayano Handmade and Limomade

Assalammu'alaikum wr wb

Yuk yuk yang pengen tote bag lucuuu... untuk memperingati hari Kartini, hayano handmade dan limomade ngadain giveaway nih.





Yuk check persyaratannya di blognya hayano handmade yuuuuk






Minggu, 13 April 2014

Bola-bola Salju

Assalammu'alaikum wr wb

Di hari minggu yang ceria ini, saya dan Mimi kembaran saya memutuskan untuk eksperimen membuat donat. Belanjanya udah dari kemarin-kemarin sih.

Nah kami mulai start dari jam 8.30 WIB, kelarnya baru jam 11-an gitu. Kenapa lama?
Yah kalo yang sering biat pasti udah tau ya, donat kan butuh waktu untuk fermentasi raginya, hehehe...

Tahap yang agak ribet adalah saat menguleni adonannya. Huaaa tak segampang yang dikira ternyata. Padahal kalo ngelihat mama nguleni adonan perasaan gampang-gampang aja, hihihi...



1. Campur semua bahan lalu 
uleni sampai khalis.
2. Diamkan selama 15 menit.
3. Cetak adonan sesuai selera, lalu
diamkan lagi selama 20 menit. 
Baru deh digoreng.

Tapi setelah berjuang bersama, akhirnya jadi juga bola-bola saljunya :9

Itadakimashu... :9





*Kami sengaja pake kentang merah yang waktu itu pernah saya update di akun IG saya, dan bener aja rasanya lebih lembut euy...
*Bahannya search di google aja yah, ribet nih ngetik di hp :p



Jumat, 11 April 2014

Rabu, 02 April 2014

Leuser Coffee from Gayo Land

Assalammu'alaikum wr wb

Setelah di postingan yang lalu saya bagi-bagi kopi buat dua orang yang beruntung, nggak ada salahnya Chi kenalin produk salah seorang sahabat Chi ini ke kalian ya teman-teman.

Leuser Coffee sendiri adalah home industry yang memproduksi kopi arabika, khususnya kopi Gayo. Pada tau kopi Gayo nggak teman-teman? Gayo sebenarnya adalah nama suku yang ada di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Nah karena di sana adalah daerah dataran tinggi yang cocok ditanami kopi, sehingga kopi adalah tanaman khas di sana. Nah karena khasnya itu, jadilah kopi hasil perkebunan di sana lebih dikenal dengan sebutan kopi Gayo.






Baiklah, kembali lagi ke Leuser Coffee ya. Kemarin sempat nanya-nanya dikit sih sama Danurfan, si sahabat yang punya usaha ini. Yuk kita simak Tanya jawab singkatnya yuuuuk…..

“Awalnya bisa membuka usaha ini, motivasinya apa ya best?”
“Karena suka kopi. Kopi itu seperti istri kedua sih. Karena kopi itu juga menjadi komoditi terbaik dari Aceh, khususnya Gayo”.


“Usaha ini dimulainya kapan ya best?”
“Pada awal tahun 2013”


“Sebenarnya apa cerita di balik nama Leuser Coffee itu best? Dan kenapa memilih nama itu?
"Aku mengambil nama Leuser itu karena kebanggaan tersendiri dengan kawasan hutan Aceh yang menjadi paru-paru dunia saat ini, selain basic orang yang suka atas isu konservasi lingkungan hidup jua sih. Dan penjualan setiap bungkusnya aku hibahkan Rp 1.000 untuk penanaman pohon, edukasi lingkungan hidup, baik perubahan iklim, global warming dan upaya penyadartahuan soal konservasi lingkungan hidup tadi”.





“Terus kalo productnya apa hanya kopi arabika saja?”
“Iya, cuma arabika saja. Dan kopinya berasal dari Bener Meriah dan Takengon. Dalam pembelian bahan baku aku memberikan premium fee kepada mereka Rp 3.000 di setiap kg bahan bakunya sebagai apresiasi kepada petani kopi”.


“Mimpi kamu ke depan bersama Leuser Coffee apa best?”
“Mimpi ke depan bersama Leuser Coffee adalah bisa memberikan wujud mimpi untuk membantu kesinambungan dalam melestarikan alam dan pastinya membuka lapangan kerja juga”.




Nah itu dia wawancara abal-abalnya, hihihi…
Walau singkat dan padat, tapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari jawaban sahabat saya yang satu ini. Semangat dan kepeduliannya terhadap lingkungan itu yang harus diacungi jempol. Pada termotivasi nggak nih hey kalian yang juga lagi mencoba membuka usaha sendiri. Kalo saya mah iya, hehehe…

Oia Danurfan, yang punya sapaan akrab Gem dari teman-temannya ini adalah sabahat saya sejak SMP. Selain pecinta kopi, dia juga merupakan pemerhati lingkungan yang juga aktif di Tropical Society dan banyak kegiatan sosial lainnya. 



Belajar sambil bermain
Gem bersama anak-anak petani di kampung
Jagong Jeget, Aceh Tengah.


Semoga terinspirasi ya teman.



Buat yang pengen order, silahken hubungi 
Twitter     : @IndieGem
Facebook  :  Danurfan




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...