Rabu, 16 Juli 2014

Ramadhan di Takengon, Tidak Lengkap Rasanya Tanpa Cecah Bajik

Assalammu'alaikum wr wb

Huaaa udah lama nggak tersentuh blognyaaaa....
*pukpuk blog


Kali ini chi mau berbagi cerita tentang salah satu makanan khas di Takengon, Aceh Tengah yang biasa dijadikan sebagai menu berbuka. Makanan itu adalah cecah bajik. Kalau biasanya yang dikenal dengan kata cecah itu adalah ragam jenis sambel-sambelan, nah cecah yang satu ini beda. Cecah bajik ini lebih mirip dengan rujak sebenarnya.



Bajik sendiri artinya adalah buah nangka yang masih muda (sekali) yang biasanya masih sebesar jempol kita dan cecah bajik sendiri ya memang berbahan dasar buah nangka muda. Lalu ditambah dengan pisang muda, jambu kelutuk, terong belanda, nanas, daun pepaya, gula aren dan garam. Cara membuatnya ada yang diulek atau ditumbuk dengan menggunakan alu.

Rasanya campur-campur ya, ada kelat, manis dan asam. Hehehe tapi beberapa hari yang lalu sempat bikin di rumah sama mama, bahannya kurang alias apa adanya, walhasil warnanya agak kelam ya. Soalnya nggak ada nanasnya. Biasanya kalau ada nanasnya jadi agak cerah warnanya :)



Cecah bajik sendiri katanya bagus untuk pencernaan loh.

Nah buat kalian yang mau nyoba bikin bahannya nggak sulit dicari kan, selamat mencoba ya :)




Senin, 09 Juni 2014

Jajan Asyik di Festival Jajanan Bango Medan


Assalammu'alaikum wr wb

Hari Sabtu yg lalu, tepatnya tanggal 7 Juni 2014, saya bersama 4 orang blogger lainnya mendapatkan kesempatan icip-icip di acara Festival Jajanan Bango yang diadain di Lapangan Benteng Medan.

Acaranya sebenarnya udah dimulai sejak jam 9 pagi, tapi kaminya baru dateng sekitar jam 2 siang. Saya datang bersama Ilay. Sekalian temu kangen juga karena hampir dua bulan kaminya nggak ketemu.

Awalnya saya janji mau ketemu sama mbak Alderina yg menghubungi kami via email, tapi yah sayang kitanya nggak jodoh kali ya mbak. Hp mbaknya low batt. Jadi ngambil kuponnya sama mbak2 di bagian informasi aja.

Harinya cukup panas kalo saya bilang, tapi pengunjungnya rame. Yah namanya orang Medan memang sukanya berkuliner ria ya bo', ya jadi nggak heran kalo ada event beginian pasti selalu rame.

Untuk kita para pengunjung, di pintu masuk langsung disambut dengan contoh dan penjelasan singkat tentang proses pembuatan kecap bango itu sendiri. Mulai dari contoh tanaman kacang Malikanya, pembuatan gulanya, dan yang paling utama kecapnya tentunya.


My Favorite shots ♥




Botol kecap raksasa





Setelah selesai narsis-narsisan saya sama Ilay ketemu dengan Zikri dan Badia, teman sesama blogger di Blogger Sumut. Merekanya udah makan aja pas kami nyampe. Jadilah kami pun mutusin keliling dulu buat cari santapan. Pas keliling ke stan-stannya, kaminya malah bingung mau makan apa, saking banyaknya pilihannya.


(Ki-ka: Martabak Shakira, Siomay Bandung,
Sate Nasional, Lohat &
Sate Memeng)


Saya sebenarnya pengen makan Nasi Biryani, eh taunya udah abis. Jadinya saya milih Sate Nasional dan Ilay milih Sate Memeng. Kedua makanan ini sama-sama sate bumbu kacang, tapi ya masing-masing punya khasnya sendiri.





Dilihat dari lokasinya, cukup bersih menurut saya. Karena selesai kita makan, petugas kebersihannya langsung tanggap ngambilin piring kotor dan sampahnya. Di tenda bagian tengahnya juga cukup adem karena banyak dipasangin kipas blower gitu. Jadi walau harinya panas jadi terminimalisir :)

Oiya kita juga bisa dapet minuman gratis dari Pure It, boleh isi ulang juga kalo bawa botol sendiri. Asyik kan ya...




Pas kelar ngantri panjang, pas balik ke meja taunya Zikri dan Badia udah cabut hunting makanan lagi. Ya sudahlah, jadinya kami santap cantik berdua aja sama Ilay. Selesai makan baru ketemu sama Yoga, Rudi dan Dewi. Mereka teman-teman dari Blogger Medan Community. Haha sayanya semacam terbelah dua ceritanya. Karena memang bergabung di dua komunitas blogger ini. Tapi ya itu, seringnya jadi anggota 'ninja' alias suka muncul dan hilang tiba-tiba, hahaha...

Selesai shalat, saya dan Ilay icip-icip Martabak Shakira. Hmm.. lumayan lah rasanya. Soalnya perutnya masih kenyang, hahaha... Padahal tadinya pengen icip-icip roti tisu dan es pisang ijo, tapi keabisan :'(

Berhubung masih punya dua kupon lagi, sayang kan ya nggak dituker makanan buat dibawa pulang, buat Mimi juga. Mimi pengennya Siomay Bandung. Wuidih, ngantrinya panjaaangnya ampuuuun, tapi ya demi Mimi ndak papa lah.

Saya sendiri pengen ngerasain Holat. Holat ini makanan khas Padang Sidempuan, yang terdiri dari ikan mas dibakar yang disiram kuah bening yang diracik pakai daun balaka dan pakat (rotan muda). Rasanya agak pedas tapi seger. Namanya masakan orang Mandailing, nggak sah rasanya kalo nggak pedas ya, hehehe...

Nah kalo udah rame-rame begini, nggak asyik kan ya kalo nggak foto-foto sebelum pulang. Pulang-pulang selain nentengin bungkusan makanan, dapet kecap sachet gratis lagi, Alhamdulillah :)



(Ki - ka: Rudi, Ilay, Zikri, Saya dan Yoga)



(Ki-ka: Yoga, Ilay, saya, Zikri & Dewi)



(Ki-ka: Dewi, Yoga, Zikri, Ilay, Rudi & Saya)



Thanks ya mbak Alderina, terutama penyelenggara Festival Jajanan Bango yang usah ngundang kami. Lidah dan perut kami benar-benar dimanjakan hari itu :)


Jumat, 02 Mei 2014

Mendaur Ulang Baju Lama

Assalammu'alaikum wr wb

Beberapa hari yang lalu saya bongkar-bongkar isi lemari dan menemukan baju ini.



Baju ini sudah lama sekali tidak terpakai. Sempat sekali saya jadikan bahan eksperimen juga waktu itu. Pernah saya posting di sini juga :
Belajar Smocking
Tapi ternyata tidak membuat saya tertarik untuk sering-sering memakainya lagi. Jadilah akhirnya saya bongkar dengan semena-mena... Hehe nggak kok, saya motongnya rapi kok :p




Ini sebenarnya bros sih, 
tapi gegayaan aja 
dijadiin gelang





Nah kalo ini
udah keliatan kan
brosnya.


Sebenarnya masih ada sisa kain lagi sih, tapi belum tau mau diapain.

Happy recyling ♥


Kamis, 24 April 2014

LiterARTcyNight Bersama Goodreads Medan Membaca ♥

Assalammu'alaikum wr wb

Kemarin, dalam memperingati Book World Day teman-teman dari Goodreads Medan bersama dengan 1000 Foundation dan Malam Puisi Medan mengadakan LiterARTcyNight.




LiterARTcyNight sendiri bertujuan mengumpulkan buku anak-anak yang setelah semua terkumpul akan didistribusikan oleh teman-teman 1000 Foundation. Sayang saya lupa nanya ke mana atau siapa buku-buku itu akan didistribusikan.

Acara yang dijadwalkan mulai pada jam 6 sore ini ternyata ngaret sampai jam 8-an. Acara ini berlokasi di Teras Benji di Jalan Sendok no.11, Medan.

Begitu sampai di sana saya suka sama konsepnya yang penuh dengan barang seni itu. Mungkin itu juga kali ya yang menjadi salah satu alasan mengapa tempat ini dijadikan lokasi acara LiterARTcyNight ini. Hahaha sok tahu sayanya :p




Hal-hal yang menarik perhatian 
saya di Teras Benji


Setelah lama nggak ngumpul-ngumpul dengan teman-teman dari Goodreads, saya banyak ketinggalan informasi. Yang hadir juga wajah-wajah baru semua. Koordinatornya juga udah digantikan oleh Bang Hardy sekarang. Wah salam kenal sekali lagi ya buat geng cantik Goodreads semalem. Oiya plus 2 jagoan juga, Savindo dan satu lagi yang belum sempat kenalan tadi malem karena keburu pulang :p



Geng cantik Goodreads Medan

Bukan Indonesia namanya kalo nggak ngaret ya teman-teman. Sedikit kesal memang karena acaranya ngaretnya kelamaan. Pasalnya saya angkotera dan perempuan pula, jadi jam 9 udah harus pulang. Jadilah saya cuma ngikutin acara sampai bagian teman-teman Goodreads aja. 

Dimulai dengan pembukaan dari MC manis, @pagigenic. Dilanjutin sama kak Lely dari Goodreads di sesi kata sambutan. Kemudian ada pemutaran film pendek dari Komunitas Film Sumatera Utara (Kofi Sumut).



Saat pemutaran "Book"


Film pertama yang diputar berjudul "Book" yang berkisah tentang sebuah buku di sebuah perpustakaan. Mulai dari dia masih baru, kemudian berguna, ternoda dan berakhir dengan diabaikan begitu saja. Film yang kedua adalah sebuah film dokumenter yang berjudul "Kapal Baca Alusi Toba", yang berkisah tentang usaha seorang pemuda yang pulang ke kampungnya di daerah Pulau Samosir yang bernama desa Lottung dan kemudian tergerak untuk membuat gerakan membaca untuk anak-anak di seputaran Pulau Samosir. Jadi gerakannya berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya dengan menggunakan sebuah kapal. Wah salut sekali dengan mereka yang rela langsung terjun untuk meningkatkan minat baca pada anak-anak ini.

Setelah pemutaran dua film itu, giliran Santi dari Goodreads yang bagi-bagi buku gratis. Tantangannya ada yang dikasih tugas ngereview dan berpuisi.


Para pemenang giveaway 

Nah setelah itu sayanya cabut pulang. Maklum angkoters,  daripada kemaleman.


Oiya lupa, ada Eng Ing Eng Band juga yang nampil. Banyak komunitas juga yang dateng, antara lain KSI (Klub Sastra) Medan, FLP Medan, Klub Buku Medan, Kampung Dongeng, KofiSumut, RUFI Sumut, Blogger Medan, dan beberapa komunitas lainnya.


Senang bisa berpartisipasi di acara ini dan semoga bukunya bermanfaat, aamiin...





Selamat Hari Buku sekali lagi ya teman-teman :D







Sabtu, 19 April 2014

Catatan Kecil Tentang Pabrik Gula Mini di Aceh Tengah

Assalammu'alaikum wr wb

Tadi bongkar-bongkar notes eh malah nemu catatan kecil obrolan saya dengan papa tentang Pabrik Gula Mini (PGM) yang pernah ada di Aceh Tengah. Pabrik ini kalo katanya papa adalah pabrik gula mini pertama di Indonesia, tetapi ternyata setelah saya googling ada satu lagi si Sumatera Barat :)

Kata papa (lagi) pabrik ini didirikan di kampung Buter, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 1978. Tapi lagi-lagi setelah googling, catatan sejarah mengatakan pada tanggal 17 Oktober 1979. Hmm mungkin papa ngitungnya sejak pabrik ini dibangun kali ya, hehehe...

Tapi sayang, pabrik ini gagal dalam pengoperasiannya. Di daerah Blang Mancung memang notabene adalah daerah perkebunan tebu, jadi masalahnya bukan terletak pada sumber daya alamnya. Masalahnya ada pada sumber daya manusia, alias tenaga kerjanya. Pabrik ini mengadopsi cara kerja Hindia, yaitu sistem padat karya. Jadi lebih mengandalkan
tenaga kerja manusia, bukannya mesin.

Nah di daerah ini dulunya tidak terlalu padat penduduk, tentu saja ini jadi masalah. Di sisi lain, sistem kerja padat karya sudah jelas memerlukan tenaga kerja yang tidak sedikit. Bayangkan, semuanya serba manual, dari mulai memanen tebunya, memeras air tebu, juga memasak air tebunya pun masih memakai wajan besar. Waktu itu, pemda juga sempat menyewa tenaga kerja dari sumatera utara, tetapi pengeluaran juga menjadi semakin bertambah. Jadilah pabrik ini pun ditutup pada akhirnya. Sayang papa lupa cerita itu terjadi pada tahun berapa.

Sekarang, pabrik ini hanya tinggal nama saja. Satu besi penopangnya pun sudah tidak ada lagi. Kata papa banyak yang menjarahnya saat masa-masa konflik di Aceh lalu. Sayang sekali ya :(

Oiya, desa Buter itu berada dekat dengan pusat gempa 6,2 SR yang terjadi 6 Juli 2013 lalu di Aceh Tengah. Di sana masih banyak terdapat perkebunan tebu juga sampai sekarang.

Jujur saya sendiri belum pernah ke lokasinya. Saat musibah gempa pun kami memilih untuk tidak hanya ke sana untuk sekedar menonton para korban di sana. Karena saat itu kami sekeluarga sedang berduka karena beberapa hari sebelumnya kakek saya meninggal dunia.


Yah kalau bukan karena kejadian gempa itu, papa saya juga mungkin tidak akan menceritakan setitik sejarah ini ke saya.

Dari cerita ini jadi makin sadar kalau masih terlalu banyak yang belum saya ketahui tentang tanah kelahiran saya, Aceh Tengah :(



Rabu, 16 April 2014

April Giveaway from Hayano Handmade and Limomade

Assalammu'alaikum wr wb

Yuk yuk yang pengen tote bag lucuuu... untuk memperingati hari Kartini, hayano handmade dan limomade ngadain giveaway nih.





Yuk check persyaratannya di blognya hayano handmade yuuuuk






LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...