Senin, 09 Desember 2013

Rindu yang Berserak



Pict from here


Aroma itu kembali hadir ketika senja perlahan datang.
Aroma basah dan lembab.

"Rapatkan jaketmu sayang" ujar ibu ketika aku mendekati jendela.

Aku pun merapatkan jaketku dan memperbaiki syalku.
Saat-saat seperti ini adalah saat-saat rindu kembali berserakan.
Rindu pada tawa renyahmu.
Pada hangat senyummu.

"Kau tahu apa yang paling ku benci?" tanyaku padamu ketika memandangi hujan di suatu sore.

"Apa?" tanyamu balik.

"Aku benci ketika mereka datang tetapi aku tidak bisa menari bersama mereka" jawabku sebal.

Tak lama terdengar tawa itu, tawa renyahmu.

"Seharusnya kau bersyukur masih bisa menikmatinya, walau sekedar memandanginya dari jendela" ujarmu sambil mengelus lembut kepalaku.

Ah, aku selalu tidak tahan dengan elusan lembut itu.

Hari ini, rindu itu pun masih berserak di sini.
Rindu pada elusan itu.
Pada tawa renyah itu yang sudah berbulan-bulan tak lagi menemaniku menikmati rinai-rinai yang perlahan menciptakan aroma basah yang ku sukai ini.


*Sihiiiiiy Desember Rain udah tiba, jadi iseng nulis begini :p



6 komentar:

  1. kalo sering hujan begini bawaannya pengen beol aja..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kangen siapa nih Jenk?? cicuiit, yg abis sakit kangen2an,, hehehehh

    BalasHapus
  4. Yah desember identik dengan hujan.
    kalo di jakarta hujan identik dengan banjir dan macet.
    surem...
    tapi keren cii tulisannya!! :D

    BalasHapus
  5. rindu di bawah rintik hujan

    BalasHapus
  6. Yudi: Waduh, bukannya jadi pengen pipis aja ya yud? :p

    Diah: Hahaha cuma fiksi jenk :)

    Samuel: Wuih iya ya Sam, hati-hati kamu kalo banjir. Btw thanks ya :)

    Joe: Hihihi beneeeer... :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...